Muhasabah Cinta [4]

 

yolanda anjani

Rasa suka dan kagum Taufik ke Meila semakin memuncak. Hampir setiap hari Taufik mencari cara agar bisa mengobrol atau menghubungi Meila dengan berpura-pura menanyakan tugas kampus.

“Meila selesai kelas Pak Nugroho mau kemana?” tanya Taufik di depan kelas ketika berpapasan dengan Meila.

“Oh nanti mau ke kajian Ummu Hanni di FKG,” Balas Meila singkat

“Oh iya, wah ikut dong seru tuh ke kajian ya kan,” Ucap Taufik menyeringai.

Meila menghela napas pelan, “Nggak bisa fik, itu khusus akhwat”

Taufik berpikir dan mencerna ucapan Meila, “Emang kalau mau jadi akhwat gimana caranya? Ada ngisi form dulu kah?” tanyanya penasaran sekali.

Meila membelalakkan matanya, ingin sekali tertawa lepas tapi dia ingat bahwa dia sedang mengobrol dengan laki-laki yang bukan mahramnya. “Hehe khusus akhwat itu maksudnya khusus perempuan aja”

Taufik malu bukan main, dia menutup wajahnya dan meminta maaf ke Meila atas ketidaktahuannya.

Mulai dari situ, Taufik rutin mencari kajian di lingkungan kampus. Bergabung dengan beberapa teman-teman di kelas yang dikenal sebagai anak hijrah. Ia ingin memperbaiki dirinya agar layak dekat dan berteman dengan Meila yang dikenal dengan julukan si anak pesantren.

Hingga suatu hari Taufik tiba-tiba menemui Meila yang sedang membaca buku di perpustakaan. “Mei..” panggilnya dengan suara yang kecil.

Meila menoleh, “Ya, ada apa?” tanyanya

“Aku mau ngomong sesuatu ke kamu. Tapi diluar perpustakaan saja, nanti kalau disini akan berisik,” Jawab Taufik dan berjalan keluar diikuti oleh Meila

“Mei, aku mau jujur ke kamu tentang sesuatu,” ucap Taufik dengan wajah serius

Meila mengangguk saja, menandakan maksud silakan kepada Taufik

“Mei, aku kagum sama kamu. Kamu mau ga kalau pertemanan kita lebih dekat lagi? Atau bisa dibilang ada hubungan gitu,” ucap Taufik malu-malu. “Aku sudah berusaha menjadi lebih baik Mei, karena kamu aku jadi berubah mau ikut kajian dan berteman dengan orang-orang yang sudah hijrah juga,” Tambahnya dengan yakin.

Meila menatap Taufik dengan kesal, lalu ia memejamkan matanya sebentar dan menghelakan napas cukup panjang. “Fik, maaf ya aku gak nyangka kalau kamu sampai sejauh ini. Aku ngerasa kita ini cuma teman sekelas aja, cukup. Oh iya, satu lagi jangan berubah karena manusia, fik. Lurusin niat mu itu, berubah karena Allah,” Meila menutup pembicaraan mereka dengan salam dan membalikkan badan untuk berjalan pulang.

Taufik pun terdiam, mematung, terhanyut dengan pikirannya sendiri.

 #30DWCjilid47 #30dwc #day10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home