How to be a Muslimah?

Wanita shaliha merupakan sebaik-baiknya perhiasan dunia, maka dari itu kita harus bangga menjadi seorang Muslimah dan berjuang menjadi sebaik-baiknya muslimah agar kelak menjadi wanita yang shaliha. Sebagaimana terdapat dalam hadist berikut:

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim, no. 1467)

Sebagai seorang muslimah, begitu banyak cara-cara yang Allah berikan kepadanya agar kelak mendapatkan Surga, diantaranya yaitu menjalankan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat pada suami dan menjaga kehormatannya.

Adapun juga Ibnu Abbas pernah diutus oleh para shahabiyah untuk bertanya kepada Rasulullah, ibadah apa yang dapat dilakukan oleh muslimah agar sederajat pahalanya dengan jihad? Maka Rasulullah pun menjawab, tugas yang dikerjakan oleh istri berupa mengurus rumah, membesarkan anak, dan lain sebagainya, sederajat pahalanya dengan jihad di jalan Allah. Perempuan yang mengandung, kemudian melahirkan maka dia akan memperoleh pahala sebesar ganjaran orang yang berpuasa dan berjihad di jalan Allah SWT. MasyaAllah begitu indahnya perjuangan seorang perempuan untuk memperoleh cinta-Nya.

Namun kabar buruknya saat ini adalah, masih banyak saudari-saudari kita yang melewatkan keistimewaan sebagai muslimah yang telah Allah berikan. Banyak yang mengabaikan atau bahkan enggan menerapkan kewajiban yang telah Allah tetapkan. Tentu juga masih ada yang belum paham sama sekali, maka disinilah peran kita sebagai sesama muslim untuk saling menasihati dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Berita-berita di surat kabar, sosial media, dan media lainnya seringkali muncul mengenai kasus pelecehan wanita, wanita yang hamil diluar nikah, bahkan maraknya status friends with benefit (FWB), hingga adanya Lesbian Gay Bisexual Transegender (LGBT). Naudzubillah.

Semua ini hadir karena abainya kita dengan ketetapan dan aturan yang telah Allah berikan kepada kita. Masih tergerus dengan pemikiran You Only Live Once (YOLO), sehingga menghabiskan waktu di dunia dengan kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah bahkan sampai pada cara yang telah Allah larang.

Wahai muslimah, mari kita kembali kepada fitrah perempuan sebenarnya. Kembali kepada identitas kita sebagai muslimah, dimana bukan dengan berbangga akan kecantikan fisik yang dimiliki, bukan dengan kulit putih-halus-mulus yang didambakan, bukan dengan pakaian kurang bahan untuk menarik perhatian. Namun dengan berpakaian layaknya identitas seorang muslimah sebenarnya, berkepribadian sebagai seorang muslimah sesuai islam, cerdas dan bermanfaat bagi orang sekitarnya, dan menerapkan aspek kehidupan dengan islam secara kaffah (menyeluruh). Tidak nanggung, tidak setengah-setengah, tidak pilah-pilih mana yang ingin diterapkan sesuka  hati lalu mana yang tidak cocok lantas ditinggalkan begitu saja.

Menjadi Versi Terbaik Kita

Pertama, jadilah versi terbaik diri kita sendiri. Jangan mendengarkan cemoohan orang lain tentang kita yang tidak bermanfaat. Namun jika ada yang memberi saran untuk kebaikan, maka baiknya didengarkan sebagai bentuk muhasabah. Mungkin ada hal yang tidak terlihat dalam diri kita, tapi terlihat oleh orang lain. Hal itu merupakan bentuk rasa cinta dan sayang orang lain kepada kita karena telah mengingatkan kita dalam kebaikan.

Kita tetap bisa melakukan apa yang ingin kita lakukan, apa yang kita sukai, serta berbagai hobi dapat kita eksplor sebagai langkah mengenali diri sendiri dan menjelajahi perjalanan untuk menjadi versi terbaik diri kita masing-masing.

Jangan mudah sekali insecure dengan pencapaian orang lain dan membanding-bandingkan diri dengan orang-orang diluar sana. Be the best version of us , sesungguhnya Allah udah menciptakan kita dengan potensi yang kita miliki masing-masing. Jadi stop bandingin diri dengan orang lain, tetaplah berusaha menjadi lebih baik sesuai dengan kemampuan dan keinginan kita. Sebab menjadi diri orang lain itu sulit, kita akan merasa terkekang di ruang lingkup tentang orang yang kita ikuti dan tidak bebas untuk berekspresi.

Tentunya kita harus menjadi versi terbaik menurut Allah SWT, Sang Pencipta ya. Jangan sampai memperbaiki diri dengan cara yang salah bahkan keluar dari jalan yang Allah ridhoi.

Menjadi Perempuan Pembelajar

Kedua, menjadi perempuan pembelajar. Sesungguhnya muslimah itu harus terus belajar dan menggali ilmu. Jangan sampai kita menjadi muslimah yang fakir ilmu, malas belajar,  atau mager-mageran dan lebih milih untuk berleha-leha pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Sesungguhnya malas adalah salah satu sifatnya syaitan yang sudah seharusnya kita jauhi. Malas juga tidak memberikan dampak yang baik bagi kita, malas akan menjadikan diri kita kurang pergerakan dan jauh dari produktif.

Mengapa harus belajar? Pertama, sebab kewajiban menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap hamba Allah. Pada Qur’an Surah Az-Zumar ayat 9, Allah mengingatkan kita, “Katakanlah, ‘apakah sama antara orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tidak berilmu perngetahuan?”

Kemudian kedua, kita muslimah akan menjadi ibu penerus peradaban nantinya. Muslimah akan menjadi madrasul ula bagi anak-anaknya kelak. Untuk menjadi seorang ibu pastinya kita harus memiliki ilmu, sebab menjadi ibu bukan sekadar menyuapi anak makan atau memandikannya saja. Namun menjadi ibu memiliki tanggungjawab yang kompleks, yakni mendidik anak, membesarkan anak dengan cinta, mengajarkan anak dengan hal-hal dasar seusianya, mengenalkan anak dengan tauhid sejak dini, dan banyak lagi tanggungjawab lainnya yang akan dilakukan seorang ibu. Nah, pastinya hal-hal tersebut harus diiringin dengan ilmu pengetahuan oleh ibunya. Itulah mengapa pentingnya bagi muslimah untuk belajar, apalagi saat ini sudah dimudahkan dengan banyaknya kelas-kelas parenting dan kelas pendidikan bagi anak.

Selain menjadi ibu, ketiga, seorang muslimah pastinya menjadi seorang istri. Menjadi seorang istri juga butuh ilmu. Ilmu pranikah sangat penting untuk kita pelajari dan pahami agar ketika sudah berlayar dibahtera rumah tangga tidak bingung dan ambigu lagi. Setidaknya kita memiliki dasar-dasarnya pun tidak apa-apa, daripada tidak memiliki pemahaman apa pun sama sekali. Maka baiknya, sebelum menikah kita usahakan untuk belajar terlebih dahulu mengenai pernikahan. Saat ini juga mencari ilmu pranikah tidak lah sulit, kelas berbayar bahkan kelas free pun sudah merambat banyak di media. Bukan hanya kelas-kelas, para content creator di sosial media pun juga banyak yang membuat konten membahas mengenai pernikahan. Selagi pembahasan itu baik, dapat diterima logika, serta masih sesuai syariat, maka ikutilah sebagai bekal untuk pernikahan nantinya.

Sadarkah kita bahwa perintah yang pertama kali diturunkan Allah untuk umat Rasulullah SAW adalah menuntut ilmu?

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.” (QS Al-Alaq ayat 1-3)

Menurut mas Guntur Alam dalam bukunya Menjadi Wanita yang Selalu Ditolong Allah, Ilmu diibaratkan pelita yang menerangi kita ditengah kegelapan, seperti orang yang diberikan cahaya oleh Allah ditengah kegelapan yang melanda dirinya dan masyarakat sekitarnya, tetapi lewat ilmu pengetahuan yang dikuasai, kegelapan itu akan sirna seiring dengan pengetahuan yang dia ajarkan.

Dengan ilmu insyaAllah kita akan memeroleh kedudukan yang mulia di hadapan Allah, sebagaimana dalam surah Al-Mujadilah ayat 11 Allah mengatakan, “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa tingkat.”

Memperbaiki Mindset

Ketiga, perbaiki mindset kita. Apa itu mindset? Mindset merupakan pola pikir yang dapat membentuk cara berpikir kita tentang sesuatu. Mindset ini memiliki pengaruh yang besar terhadap persepsi kita kepada dunia juga pada diri kita sendiri. Sebagaimana mindset sangat berpengaruh dengan pemikiran dan tindakan kita dalam berbuat, dimana yang sebelumnya kita memiliki mindset cantik itu dengan wajah glowing, kulit putih mulus, maka sekarang saatnya mengubah mindset menjadi cantik itu adalah menjadi muslimah yang menjaga kehormatannya, berpakaian sesuai syariat-Nya, memperbaiki akhlak, berkepribadian sesuai layaknya muslimah dalam islam, dan menjauhi diri dari pengaruh-pengaruh yang dapat merusak keindahan muslimah.

Di zaman ini memang pengaruh budaya-budaya luar sangat berdampak pada kita. Dimana juga maraknya feminisme, yakni sebuah ideologi yang memperjuangkan kesetaraan gender. Kaum feminisme ini merasa bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki kesetaraan dalam hal apa pun, tidak dibeda-bedakan. Kalau laki-laki bisa bekerja dan aktif di luar rumah, maka perempuan juga bisa seperti itu. Lantas apakah jika laki-laki jadi supir truk, lalu perempuan harus bisa menjadi supir truk juga? Begitu lah pandangan feminisme ini. Sebuah pemikiran yang jauh dari kaidah islam sesungguhnya dan menjauhkan perempuan dari fitrahnya mereka. Naudzubillah.

Feminisme ini merasa bahwa perempuan itu terkekang, hanya dirumah saja. Aktivitas yang dilakukan hanya sekitar dapur, sumur, dan kasur saja. Itu lah mengapa mereka menuntut menyamaratakan perempuan dan laki-laki.

Tapi lucunya, gerakan ini mencanangkan mendukung pembukaan aurat dan mengecam prostitusi. Padahal kedua hal ini sangat berhubungan. Hasil dari gerakan feminisme ini membuat kehidupan semakin jauh dari Islam dan perintah-Nya. Timbul lah kebebasan tanpa batas pada perempuan, mulai dari pakaian, pergaulan, pola sikap, dan sebagainya. Muncul standar kebahagiaan yang seputar duniawi saja, ingin menjadi sukses dengan gaya hidup dan ketenaran semata, lebih materialistis, bahkan sampai menganggap bahwa perempuan yang menjadi ibu rumah tangga atau istri yang di rumah itu adalah hal yang tidak keren, terbelakang, dan terkekang oleh suami. Astaghfirullah.

Oleh karena itu, kita sebagai muslimah harus back to our identity! Kembalilah dengan identitas kita sebagai muslimah, yang sesuai syariat, sesuai dengan perintah Allah SWT. Jangan mudah berbelok arah dengan asupan-asupan nutrisi jahat dari budaya barat yang dapat merusak identitas kita sebagai muslimah. Wallahul Musta’an.

Menemukan Lingkungan yang Baik

Keempat, temukan lingkungan yang baik untuk perubahan kita. Untuk berubah menjadi seorang muslimah yang lebih baik, pasti kita membutuhkan lingkungan pertemanan yang baik juga. Dalam sebuah hadist, Rasulullah pernah bilang kalau pemisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap. Seperti itu lah pengibaratan pertemanan kita dengan orang lain, maka carilah pertemanan yang sebaik-baiknya untuk perubahan kita.

Sekarang komunitas-komunitas kajian, komunitas sosial, atau pun organisasi yang merujuk pada gerakan yang baik sangat lah banyak. Kita dapat menemukannya di lingkungan sekitar kita. Dengan bergabung kegiatan-kegiatan tersebut, yakin lah akan ada bentuk perubahan dalam diri kita. Kita juga akan mendapat pertemanan yang saling mengingatkan kedalam kebaikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran.

Sedikit cerita dari saya, saya merasakan sekali perubahan pertemanan setelah saya mencari lingkungan yang menurut saya lebih  baik untuk diri saya. Dulunya saat masa duduk di sekolah menengah atas, saya termasuk anak yang sangat ambis mengejar impian-impian saya. Sampai saya terlena ingin meraih sesuatu namun lupa dengan Sang Maha Pemberi. Merasa bisa mendapatkan apa pun dengan kemampuan sendiri, padahal Allah lah yang memberikan serta memampukan hamba-Nya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Bahkan, apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah. Apa yang diberikan dari Allah lah, sudah menjadi ketetapan yang terbaik dari-Nya. Sebagaimana firman Allah pada QS Al-Baqarah ayat 216 :

“…. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Dengan niat yang pasti saya pun melangkah untuk mencari lingkungan yang baik untuk menggapai ridho-Nya. Mendekatkan kembali diri kepada Sang Maha Pencipta. Setelah menemukannya hari-hari dijalani lebih indah karena dikelilingi oleh orang-orang yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan. Saling berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan, fastabiqul khairat.

yolanda anjani

#30DWCjilid47 #30dwc #day13

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home