Muhasabah Cinta [1]

 

Yolanda anjani

Kriiing..kriiing

Bunyi bel tanda masuk kelas menggema di koridor kampus. Para mahasiswa bergegas memasuki ruangan kelasnya, ada yang berlari disepanjang koridor, ada yang berjalan santai, ada juga yang sudah siap sedia duduk di kelas sejak sebelum bel berbunyi.

“Ah sial! Telat lagi deh gue!” kesal seorang mahasiswa, ia baru sampai parkiran saat bel berbunyi.

“Huh malah ini kelas statistika lagi, dosennya si songong itu!” gumamnya sendiri disepanjang jalan koridor.

Perjalanan dari parkiran ke ruang kelasnya juga cukup jauh dan melelahkan. Dia harus berjuang menaiki 3 lantai dan berjalan ke kelas tersudut di Gedung itu. Sesampainya didepan kelas, mahasiswa itu melihat dosen yang ia katakan ‘songong’ sudah berdiri didepan kelas memulai pelajaran.

“Ngapai kamu berdiri disitu, masuk!” ucap dosen tersebut karena kepala si mahasiswa yang nongol kelihatan.

Mahasiswa tersebut masuk dengan langkah kecil, ada rasa ragu, sebab dia sudah tau kebiasaan dosennya ini. Pasti akan ada sesuatu nanti yang akan dia hadapi.

“Permisi pak.”

“Kamu memang selalu telat ya, Taufik. Apa lagi alasan kamu hari ini? Anak kucing kamu sakit lagi? Tikus di kos-an mu hilang?” kata dosennya diiringi tawa mahasiswa di kelas.

Taufik pun menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. “Maaf pak, saya bangun kesiangan kali ini.” Balasnya pasrah. Ntah harus berasalan apalagi dia.

“Yasudah, duduk kamu sana. Kita akan ada tugas kelompok untuk materi yang baru, dan saya sudah membagi kelompoknya. Sepertinya kelompok Meila masih kurang satu peserta lagi. Gimana, Meila?” tanya dosen Statiska memastikan.

Meila, sang ratu di kelas. Sebab di kelas 80% nya adalah laki-laki dan Meila ini termasuk mahasiswi yang sangat girly, feminim dengan level tertinggi diantara mahasiswi lainnya. Seorang perempuan yang disebut-sebut sebagai anak pesantren di kelas, karena pakaiannya yang syar’i menjadikan laki-laki di kelasnya pun enggan padanya.

Meila pun mengangguk ketika dosen statiska itu menanyakan kesediaannya jika Taufik bergabung dengan kelompoknya. “Baik pak” tambahnya lagi.

“Baguslah kamu diterima sama Meila, baik-baik ya belajar sama Meila. Jangan selalu jadi manusia yang merepotkan kamu Taufik!” ucap dosen tersebut sembari mempersilakan Taufik duduk.

Taufik mengangguk pasrah dan duduk, dia mendapat kursi tepat dia depan Meila.

Bersambung…


#30DWCJilid47 #30dwc #day8

Komentar