Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Rasa Gelisah

Mungkin, ada yang kepikiran sesuatu ketika hendak mau tidur.  Pikirannya itu membuat gelisah, overthinking , dan rasa kacau dalam dirinya.  Hingga pada akhirnya berujung; tidak bisa tidur.  Aku tidak tahu pasti bagaimana orang yang overthinking sampai nggak tidur.  Sejauh ini, aku pernah merasakan kepikiran suatu hal, tapi saat waktu sudah hampir shubuh disitulah aku merasa ngantuk dan tertidur. Jadwal tidur kacau, aktivitas di hari itu juga tidak maksimal akibat kurang tidur.  Efek dari kurang tidur memang tidak baik. Tidur adalah waktu kita mengistirahatkan tubuh kita dari aktivitas yang sudah kita lakukan di hari itu. Makanya kalau kurang istirahat tuh, kerasa banget ya kan ke diri kita.  Ya, begitu lah rasanya gelisah tadi.  Lagian apa sih yang kita gelisah kan? Hm iya, pasti karena dunia kan? Soalnya aku juga pernah merasakan hal itu. Ya mungkin pun sampai sekarang masih ada kegelisahan yang dirasakan tentang duniawi ini. Tapi ingat, jangan sampa...

Pernah Patah Hati

Udah hari ke-23 ikut tautan narablog. Kali ini temanya adalah tentang patah hati seorang pembelajar. Dengan tema ini jujurly saya bingung mau menulis apa. Apalagi kalau tentang "Patah hati". Aku akan coba mendefinisikan patah hati dari pandanganku. Menurutku perasaan patah hati itu akan muncul ketika yang terjadi tidak sesuai harapan kita, lalu kita sedih, galau, bahkan sulit untuk mengikhlaskan hal tersebut. Aku pernah pada posisi patah hati karena gagal snmptn, sbpmtn, kedinasan, bahkan mandiri untuk bisa ke universitas impianku. Aku pernah juga patah hati karena mendapatkan nilai yang lebih rendah dari teman-teman satu kelas ku di salah satu mata kuliah, padahal aku menjadi asisten dosen mata kuliah tersebut (asisten disini seperti membantu dosen tersebut dalam hal komunikasi, tugas-tugas, bahan ajar ketika beliau masuk ke kelas kami) Aku pernah patah hati juga saat wisuda, ternyata di angkatan ku hanya ada 2 orang yang telah menyelesaikan D3 ini. Aku dan salah satu kakak-...

Dunia Hanya Sementara

Dunia hanyalah permainan dan tempat senda gurau .  Jika pernah mendengar kalimat ini, berarti kamu pernah mendengar sebuah firman Allah, yaitu surah Al-Ankabut ayat 64.  Di ayat itu dinyatakan bahwa dunia ini hanya lah permainan, kehidupan sebenernya adalah akhirat.  "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." QS Al-Ankabut : 64 Kadang tuh secara tidak sadar kita mengeluarkan effort yang gede untuk dunia, tapi lupa effort untuk akhirat juga.  Kita sibuk dengan urusan dunia, hingga lalai dengan kesibukan yang seharusnya; yakni akhirat.  Tulisan ini adalah sebuah reminder, untuk menyadarkan diri ini bahwa dunia hanya sementara dan akhirat selamanya.  Semoga Allah menguatkan kita.  Semoga Allah menjaga kita, si manusia yang kembali pada-Nya ketika dalam keadaan butuh saja.  Padahal, Allah udah mengingatkan bahwa sesungguhnya "Dia dekat". ...

Tentang Nala #6 [END]

Gambar
Pukul 15.30 WIB Nala mulai merapikan buku-buku yang ia baca. Tujuan selanjutnya adalah masjid kampus untuk sholat Ashar, kemudian pulang ke rumah. Saat sedang mengembalikan buku ke rak di perpustakaan, ada seseorang yang memanggil nama Nala berulang kali. Suaranya setengah berbisik agar tidak mengganggu pengunjung perpus. "Nala..Nala..."  Nala menoleh ke sumber suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Habib. Habib melambaikan tangannya ke arah Nala dan bergegas menghampirinya. "Ternyata kamu ke perpus, kebetulan banget ketemu. Setelah ini mau kemana nal?" Tanya Habib memulai obrolan. "Mau ke masjid untuk sholat." Jawab Nala datar tanpa menoleh ke Habib. "Ohh yaudah ayuk jalan kesana bareng." balas Habib menawarkan diri. Nala melangkah ke arah luar perpustakaan, tidak menghiraukan ajakan Habib. Sesampainya didepan pintu keluar, dengan memberanikan diri Nala berkata ke Habib, "Aku jalan ke mesjid sendiri aja ya. Gausah barengan, nanti timbul g...

Tentang Nala #5

Berawal dari belajar kelompok bersama, Nala dan Habib yang sebelumnya tegur sapa saja tidak pernah, sekarang malah sering mengobrol di kelas mengenai anime-anime yang mereka tonton. Hampir semuanya sama. Anime yang diikuti oleh Habib, juga diikuti oleh Nala.  "Nal, sekelas jadi pada ngira kamu dan Habib itu pacaran lho!" Tiba-tiba Rara datang sambil menggoyang kursi Nala.  Nala terkejut, tampak dari wajahnya. "Karena kami ngobrol?" Tanya Nala.  Rara membaguskan posisi duduknya didepan Nala, "Iya keknya. Kau tau lah kan mulut kelas kita ini. Apalagi kan kau jarang ngobrol dan ketawa sama laki-laki!" Jelas Rara. Iza yang mendengar perkataan Rara ikut terkejut. "Gausah dengerin gosip lah, Ra. Gausah dipikirin kali juga ya Nal, emang tuh mulut manusia minta di sentil!" Ucap iza kesal.  Nila mengangguk saja.  Setelah kelas selesai, seperti biasa Nala pergi ke perpustakaan untuk melahap buku bacaan barunya.  Perpustakaan tampak lebih ramai dari biasany...

Tentang Nala #4

Habib akhirnya bergabung dengan kelompok belajar Nala. Di kelompok itu ada Nala, Habib, Angga, dan Iza.  "Kita santai-santai aja bib. Palingan nanti si Nala ini ngerjain sendiri hahaha" ucap Angga dengan tawa yang menggelegar. Kali ini mereka kerja kelompok di salah satu cafe yang tidak jauh dari kampus.  Nala mendengar perkataan Angga, ia mendengus kesal.  "Ya kalo mau santai-santai aja yasudah. Paling nanti pas di tanya pak herman siapa yang ngerjain, aku bisa jawab 'saya' pak." Balas Nala cuek.  Iza buru-buru membuka buku pelajaran, "Eh aku ikutan ngerjain ya Nal." Jawabnya sembari meletakkan gawai.  Habib membuka buku catatan kuliah Nala. Di buku catatan itu banyak sekali coretan-coretan kata, ada kalimat motivasi, bahkan gambar-gambar anime yang ia gambar sendiri.  "Ga sopan buka buku orang ga bilang dulu!" Ucap Nala meraih buku catatannya dari tangan Habib.  Habib tertegun, merasa bersalah. "Eh maaf Nala, aku belum izin. Tadiny...

Tentang Nala #3

Gambar
"Harusnya aku bilang di via chat aja sih, gausah harus sampe ngajak ngobrol langsung gini hehe" Ucap Habib sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.  Habib dan Nala bertemu di koridor kampus. Tentu saja ditemani oleh Rara dan Iza juga. Awalnya Rara tidak mau, dia lebih memilih segera ke kantin untuk mabar game online dengan para teman laki-lakinya. Setelah bujukan Iza, akhirnya dia mau juga. "Yaudahlah, demi kawan" ucap Rara meng-iyakan ajakan itu. Habib mulai berbicara lagi. "Jadi gini Nal, pekan lalu pas mata kuliah pak Herman aku ga hadir. Terus ternyata kan kalian udah pada ngerjain tugas kelompok tuh untuk senin nanti. Tadi aku tanya ke pak Herman, dan beliau mengizinkan aku untuk ikut ngerjain tugas kelompok." Habib menjelaskan dengan panjang lebar. "Oh iya, terus?" jawab Nala. "Terus pak herman nyaranin aku untuk gabung ke kelompok kamu. Katanya biar aku lebih paham materinya, jadi biar dijelasin sama Nala aja. Katanya juga kelomp...

Tentang Nala #2

Gambar
"Sudahlah Ra, itu kan haknya Nala mau ngesave nomor siapa aja." bela Iza agar Rara tidak terlalu banyak bertanya lagi. Rara masih belum puas, "Padahal kan cuma save doang. Dirimu aja pun jarang buat story , nal. Paling story jadwal kajian, nasihat harian lah. Kan bagus juga bisa dilihat sama orang lain story-mu."  Nala masih diam. Dia membuka pesan dan membalas chat dari Habib tadi. Karena diamnya Nala, Rara menjadi mulai kesal. "Kontaknya Nala ini macam asrama putri ya kan Za?" tambah Rara lagi.  Iza langsung menutup mulut Rara dengan telapak tangannya.  "Aku rasa belum punya kepentingan sama mereka, jadi yaudah nggak aku simpan nomor mereka. Kecuali kaya nomor dosen atau nomor ketua kelas, aku simpan karena aku rasa nomor mereka itu aku butuhin." jawab Nala setelah membalas pesan dari Habib. Rara dan Iza saling bertatapan dan mengangguk meng-iyakan alasan Nala. "Wa'alaikumussalam, aku di kampus." isi pesan Nala untuk membalas cha...

Tentang Nala #1

Gambar
Belum lama hujan reda, Nala bergegas melangkah ke masjid kampusnya.  "Hati-hati ya, dek." Ucap petugas perpustakaan, bang Bobby, yang terkenal ramah kepada seluruh pengunjung perpustakaan.  "Iya bang." Jawab Nala menghargai.  Nala si anak perpus-masjid, hampir tidak memiliki teman tongkrongan, dan sekadar berteman saat di kelas dengan teman-teman sekelasnya di kampus.  Gelar "si anak pesantren" dijuluki oleh teman-teman sekelasnya. Padahal dia sama sekali belum pernah menjadi seorang santri. Tapi karena penjagaannya dalam pertemanan antar lawan jenis membuatnya dijuluki seperti itu.  "Sekali-sekali makan bekalnya di kantin aja, Nal. Ga bosen makan di taman masjid terus?" Tanya Rara, si cewek tomboy di kelas. Dia asli anak pesantren sejak sekolah dasar, tapi tingkah lakunya seperti anak laki-laki. Sama sekali tidak terlihat anak santri.  "Lebih nyaman disini, sejuk dan gak rame orang ghibah." Jawab Nala. "Bah, jadi kau anggap kami t...

Jangan Lupa dengan Diri Sendiri

Sebelum menikah, aku dan suamiku bersinggungan di salah satu komunitas yang sama. Bahkan kami menjadi pengurus harian di komunitas tersebut. Aku sebagai bendahara umum dan dirinya adalah koordinator regional.  Sampai saat ini aku masih ingat. Aku si anak kecil ini, sok-sok an menasihati koordinator agar jangan terlalu memikirkan orang lain; termasuk perasaan orang tersebut dan kehidupan pribadinya sampai lupa dengan diri sendiri.   Mungkin beberapa yang membaca tulisan ini tahu bagaimana 'sangat totalitas' nya suamiku. Dia bahkan bisa mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Bahkan dia bisa tidak memikirkan kondisi fisiknya dengan tujuan menjadi orang yang bermanfaat.  Ntah mengapa, mungkin karena seringnya pengurus harian berkoordinasi, aku jadi memperhatikan hal itu pada dirinya. Sehingga dengan mudahnya aku pernah bilang langsung kepadanya untuk memperhatikan diri sendiri, baru perhatikan orang lain. Fokus ke diri dulu, jangan selalu mementingkan orang lain. ...

Cari yang Bermanfaat

Awal mengenal kata 'Hijrah' itu ketika aku duduk di kelas 2 SMA, tahun 2016. Abah ku sering banget ngirimin video youtube atau postingan instagram dari akun Hijab Alila saat itu. Dari situ titik awal aku menemukan channel atau akun yang lebih bermanfaat dari sebelumnya haha.  Lalu aku mulai mengetahui mbak Dewi Nur Aisyah, membeli bukunya juga, dan akun-akun kemuslimahan lain yang menjadi referensi baruku sejak itu. Berawal dari subscriber dan followers yang tidak banyak, tidak aku sangka Hijab Alila berkembang pesat dan semakin menarik konten dakwahnya. Dari situ ketika aku mengenal orang-orang yang baru berhijrah untuk menjadi lebih baik selalu aku sarankan untuk melihat konten hijab alila.  Saat ini juga akun / channel youtube sangat banyak yang bermanfaat dan patut untuk direkomendasikan. Nah, semua itu tergantung dengan kondisi kita membutuhkan konten yang bagaimana. Jika ingin mendengar ceramah dan belajar islam, berarti kita bisa melihat youtube para asatidz. Jika ...

Perempuan Hebat

Aku mengaguminya.  Seseorang yang berusaha tetap belajar dengan ilmu-ilmu untuk meneruskan peradaban nantinya.  Seseorang yang menjulurkan pakaian dan kerudungnya dengan berniat untuk menjalankan syariat-Nya dan menjaga diri dari keburukan. Seseorang yang memiliki rasa keinginan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.  Seseorang yang berusaha mengajak pada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran.  Seseorang yang menggunakan potensinya bukan untuk hal yang tidak baik, melainkan diperuntukkan ummat nanti.  Seseorang yang hatinya tulus dan penuh ikhlas dalam menjalani kehidupan. Aku mengagumimu, wahai para perempuan pembentuk penerus peradaban kelak.  Aku mengagumi, betapa berharganya dirimu sesungguhnya. Akan ada masa menjadi seorang istri dan seorang ibu.  Letak tanggungjawab yang besar, tapi tidak lupa kelak akan dibalas dengan hadiah yang lebih besar dari Sang Pencipta.  Kalian hebat bukan main, muslimah! #TautanNarablog7 #PerempuandiMataPe...

Haruskah Bersyukur ?

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Pasti kita sering mendengar ayat ini. Ayat ini diulang sebanyak 31 kali dalam Surah Ar-Rahman.  Ya, sebanyak 31 kali Allah telah mengingatkan kita untuk tidak mendustakan apa yang Dia telah ciptakan.  31 kali Allah mengingatkan kita untuk bersyukur. Namun, apakah kita sudah melakukannya?  Kita sering lupa bahwa nikmat Allah bukan semata-mata tentang materi; harta maupun kemewahan yang ada.  Nikmat Allah itu luas banget, bahkan ga bisa kita hitung berapa nikmat Allah yang telah diberikan ke kita.  - Sekecil air minum yang kita minum setiap harinya.  - Diberikan kesehatan sama Allah.  - Bernafas.  Dan banyak lagi hal lainnya, yang mungkin terlihat sepele tapi sebenernya merupakan sebuah nikmat Allah yang harus kita syukuri.  Bersyukur harus pasti, tanpa nanti.  #TautanNarablog7 #bersyukur

Semangat Pagi dengan Jalan Pagi

Gambar
Kebiasaan jalan pagi sudah aku lakukan sejak kecil, mungkin saat belum sekolah. Walaupun memang tidak rutin pada masa itu, tapi aku ingat bahwa hampir setiap akhir pekan abahku mengajak dari rumah ke kota untuk beli mainan dengan berjalan kaki.  Terkadang juga, aku dan teman-temanku di hari libur jalan pagi ke lapangan di daerah dekat rumah sambil bermain kasti atau pecah piring nantinya disana.  Hingga seiring waktu, saat SMA aku pernah ikut jalan keliling daerah asrama sekolah mungkin diperkirakan ada 10 - 15 Km di hari libur pagi sehabis subuh.  Kebiasaan itu tidak cukup aku lakukan sampai SMA. Ketika kuliah, sudah bekerja, bahkan sekarang sudah menikah, dan sedang berproses sebagai seorang ibu, aku mengusahakan diri untuk tetap berjalan pagi walaupun sekadar 1-2 Km di daerah dekat rumah.  Apakah ini sebuah hobi?  Hm, menurutku bukan sih ya sepertinya. Lebih tepatnya ini sebuah habits atau kebiasaan yang aku coba lakukan selagi aku bisa dan mampu. Lagian j...

Terimakasih, aku.

Hari kedua nulis untuk Tautan Narablog 7. Temanya adalah tentang memori menghargai diri sendiri.  Pernah dengar lagu Tulus - Diri ? Lagu itu pertama aku dengar saat aku terkena virus covid-19 awal tahun 2022 lalu.  Setelah cukup lebih baik dan bisa berselancar di sosial media, aku menemukan story instagram teman yang menggunakan lagu itu untuk backsoundnya.  "Bagus lagunya". Ucap ku dalam hati ketika mendengar lagu itu. Ya, suaranya udah gak asing sih. Suaranya mas Tulus.  Oke, kita bukan mau bahas lagu itu. Atau mau mengkaji lirik lagunya haha.  Dari lagu itu aku dapat makna bahwa, "Kalo bukan kita sendiri yang mencintai diri kita, lantas siapa lagi?" Kita yang tahu bagaimana diri kita, kondisi hati mau pun fisik kita, kebutuhan kita, dan segalanya yang ada dalam diri kita, ya hanya kita lah yang tahu.  Orang tua, teman, kerabat lainnya pun belum tentu paham dengan diri kita. Mungkin mereka bisa menebak dari tampak luar. Namun, mereka tidak tahu yang sebe...