Home Sweet Home

Bismillahirrahmanirrahim

Setelah menikah, aku dan kang suami sempat tinggal mengontrak kurang lebih tiga bulan. Kontrakan yang kami tinggalin itu termasuk rumah yang bagus dan besar; terdapat 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, dan 3 ruang tengah, dapur luas, ada garasi motor, bahkan ada juga tempat menjemur dibelakang rumah. Luas sekali kan? kalau dipikir-pikir, tinggal hanya berdua untuk apa rumah seluas itu? Kalau kata kang suami, jawabannya sih, "Biar istriku nyaman". 

Tiga bulan setelahnya kami mendapatkan rumah dinas. Rumah dinas ini lebih dekat ke kantor suami, orang-orang di komplek juga semuanya adalah satu kantor dengan kang suami. Awalnya kami bingung antara pindah atau tidak, alasan pertama karena kami sudah membayar uang kontrakan full satu tahun. Kedua, rumah dinas yang diberikan juga masih harus banyak renovasi. 

Biidznillah, akhirnya kami sepakat untuk pindah. Rumah dinas direnovasi, dan cukup lumayan besar biaya renovnya. Syukurnya juga rumah kontrakan sebelumnya bisa di oper kontrakan dengan orang lain. Alhamdulillah ada yang mau menempati rumah kontrakan yang kami tempati sebelumnya. Kami juga memang sempat membuat flyer mempromosikan rumah kontrakan sisa 9 bulan lagi itu. 

Mengapa memilih untuk pindah? Salah satu alasannya adalah di komplek rumah dinas, kurang lebih penduduknya sudah kami kenal, jadi lebih nyaman. Sedangkan di rumah kontrakan, selama tiga bulan itu kami tidak terlalu kenal dengan orang-orang disekitar rumah. Apalagi juga saat mau pindah, aku dalam kondisi hamil. Jadi pilihan untuk pindah ini adalah pilihan terbaik, semisalnya suami pergi dinas nanti beliau tidak khawatir meninggalkanku di rumah sendirian karena penduduk komplek rumah dinas yang sudah saling kenal dengan kami. Kalau ada apa-apa pun suami bisa menghubungi temannya untuk meminta bantuan.

Bertambahnya tahun, sekarang sudah hampir 2 tahun kami tinggal di rumah dinas. Mulai dari aku awal hamil, hingga saat ini anak kami sudah berusia 14 bulan.

Bentuk rasa syukurku juga, di komplek kami banyak sekali tumbuh-tumbuhan, rerumputan, sehingga lingkungannya masih cukup asri meskipun perumahan ditengah kota. Aku dan Aqsha masih bisa grounding, berjemur (sunbathing), main kejar-kejaran di halaman rumah, dan sebagainya. 

yolanda anjani
Suasana Jalan Pagi di Komplek


Walaupun di rumah dinas ini terkadang aku bingung untuk mendesain interior rumah agar aesthetic. Bukan bingung dengan modelnya atau membeli perabotannya, namun bingung kalau nanti kami pindah. Karena kang suami pekerjaannya pindah setiap 5 tahun sekali tergantung keputusan kantor pusat. Sehingga untuk mengisi perabotan rumah saja aku jadi bingung antara beli atau tidak, khawatir akan mubazir, terbuang, atau malah di pakai bentar lalu harus diberikan ke orang lain.

Apalagi suami berencana homabase kami nantinya akan di Bandung. Kemarin saat pulang ke Jawa Barat, kami menyempatkan cari rumah sekitaran Bandung - Cimahi dekat kantor suami. MasyaAllah harga-harga rumah sekarang sangat fantastis ya. Sudah jarang ada rumah sekitar 200-an juta yang dipinggir jalan, kebanyakan pasti sudah didalam gang atau kalau tidak pun rumah yang agak masuk kedalam pedesaan. Sekarang rata-rata harga rumah sudah diatas 400-an juta untuk perumahan di tengah kota. Itupun juga ukurannya tidak luas.

Main ke Parahyangan. Rumah disini start 2M

Bismillah, semoga Allah mampukan kami bisa membeli rumah yang layak dan nyaman nantinya untuk berkumpul bersama keluarga besar.. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu