Menjadi Muslimah Terbaik [2]

yolanda anjani
[Source : Pinterest ]

Adapun ciri-ciri perempuan terbaik yang disampaikan oleh Al Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., hafizhahullah dalam daurohnya, video kajian, dan artikel yang saya temukan pada web beliau adalah sebagai berikut; Pertama, perempuan yang taat, bertakwa, berakhlak mulia, menjaga dirinya, serta pemalu. Menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang buruk, yang Allah haramkan, serta menjadi perempuan yang memiliki rasa malu.

Karena rasa malu merupakan mahkota pada diri seorang muslimah. Rasa malu yang ada pada diri kita, wahai muslimah, adalah hal yang membuat kita terhormat dan dimuliakan. Rasulullah SAW pun memberikan teladan bahwa rasa malu adalah identitas akhlak islam.

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan)

Kedua, dia yang menegakkan sholat. Rukun islam yang kedua adalah sholat. Sholat lima waktu hukumnya adalah wajib. Maka sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk sholat karena hukumnya itu adalah wajib, dan bentuk ibadah kita sebagai seorang hamba kepada Rabb-nya.

Dalam sebuah hadis dinyatakan hal yang pertama kali dihisab (diminta pertanggungjawabannya) dari segenap amalan seorang hamba pada hari akhir adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia menjadi orang yang beruntung. Tapi jika shalatnya rusak, maka kerugian akan menimpanya.

Shalat juga dapat dikatakan sebagai media komunikasi antara kita sebagai hamba dengan Allah Al Khaliq. Karena kita seperti sedang mengadakan kontak yang sangat dekat dengan Allah dalam shalat. Hati dan jiwa kita sesungguhnya sedang terpaut kepada-Nya ketika khusyuk dalam ibadah shalat.

Ketiga, tidak meninggalkan Al-Qur’an dan menjadikan ayat Allah sebagai acuan hidupnya. Bagaimana bisa kita meninggalkan Al-Qur’an? Sedangkan Al-Qur’an adalah kalamullah yang menjadi petunjuk dan pedoman hidup kita. Ayat-ayat Allah menjadi acuan hidup kita selama di dunia ini. Sebab segala aturan, penjelasan seisi dunia dan alam semesta ini lengkap di dalam Al-Qur’an. Lantas bagaimana bisa meninggalkannya? Semoga Allah jaga kita tetap dekat dengan Al-Qur’an ya muslimah.

Membaca Al-Qur’an akan memberikan syafaat kelak kepada kita di hari kiamat. Selain itu juga banyak sekali keutamaan-keutamaan ketika kita membaca Al-Qur’an, antara lain: 

  1. Sebaik-baiknya manusia adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR Tirmidzi) 
  2. Kelak akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah (HR. Bukhari Muslim)
  3. Bagi yang masih terbata-bata dalam membacanya, Allah akan memberikannya dua pahala (HR. Bukhari Muslim)
  4. Derajatnya akan diangkat oleh Allah SWT (HR. Muslim)
  5. Orang yang membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan mendapat ketenangan dan diberikan naungan oleh para malaikat
  6.  Dihindarkan dari sifat iri dan dengki
  7.  Orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapat jaminan ditempatkan oleh Allah SWT di Surga (HR. Ibnu Majah)
  8.  Serta orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terbuka, sedangkah yang membaca dengan perlahan akan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi. (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Keempat, menjauhi safar tanpa mahram. Sebuah hadis yang haruslah menjadi pengingat bagi kita, yakni:

“Tidaklah halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar sehari semalam tanpa disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1088 dan Muslim, no. 1339)

“Hendaklah wanita tidak bersafar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1197).

Terdapat fatwa majlis al-ifta’ nomor 92 mengenai hukum safar tanpa mahram, bahwasannya hukumnya boleh. Fatwa ini saya temukan di sebuah artikel yang dimana tentu saja  safar yang dimaksud memiliki persyaratan, yakni; jalan dipenuhi rasa aman, selamat dari godaan, safar perempuan ditemani oleh perempuan yang tsiqqah (terpercaya), mengenakan pakaian syar’i serta memperhatikan akhlak dan adab Islami, safarnya dengan menggunakan angkutan umum dan ditemani perempuan yang terpercaya, kemudian mukim atau menetap dengan perempuan terpercaya yang dikenal dengan ketakwaan dan berakhlak yang lurus.  

Kelima, tidak menyentuh atau berjabat tangan dengan yang bukan mahram. Siapa saja mahram dan bukan mahram sudah saya jabarkan di tulisan sebelumnya. Hadist ini menjadi acuan bagi kita untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram kita.

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211)

Namun pandangan dari Ulama Hanafiyah dan ulama Hambali memperbolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram dengan digarisbawahi dia orang yang sudah tua atau tidak ada syahwat pada dirinya.

Wallahu’alam bishawab


#30DaysWritingChallenge #30DWCjilid47 #30dwc #day14

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home