Menjadi Muslimah Terbaik [2]
Adapun ciri-ciri perempuan terbaik yang disampaikan oleh Al Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA., hafizhahullah dalam daurohnya, video kajian, dan artikel yang saya temukan pada web beliau adalah sebagai berikut; Pertama, perempuan yang taat, bertakwa, berakhlak mulia, menjaga dirinya, serta pemalu. Menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang buruk, yang Allah haramkan, serta menjadi perempuan yang memiliki rasa malu.
Karena
rasa malu merupakan mahkota pada diri seorang muslimah. Rasa malu yang ada pada
diri kita, wahai muslimah, adalah hal yang membuat kita terhormat dan dimuliakan. Rasulullah SAW
pun memberikan teladan bahwa rasa malu adalah identitas akhlak islam.
“Sesungguhnya
setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa
malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis
ini hasan)
Kedua,
dia yang menegakkan sholat. Rukun islam yang kedua adalah sholat. Sholat lima
waktu hukumnya adalah wajib. Maka sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk sholat
karena hukumnya itu adalah wajib, dan bentuk ibadah kita sebagai seorang hamba kepada
Rabb-nya.
Dalam
sebuah hadis dinyatakan hal yang pertama kali dihisab (diminta
pertanggungjawabannya) dari segenap amalan seorang hamba pada hari akhir adalah
shalatnya. Jika shalatnya baik, maka dia menjadi orang yang beruntung. Tapi
jika shalatnya rusak, maka kerugian akan menimpanya.
Shalat
juga dapat dikatakan sebagai media komunikasi antara kita sebagai hamba dengan
Allah Al Khaliq. Karena kita seperti sedang mengadakan kontak yang
sangat dekat dengan Allah dalam shalat. Hati dan jiwa kita sesungguhnya sedang
terpaut kepada-Nya ketika khusyuk dalam ibadah shalat.
Ketiga,
tidak meninggalkan Al-Qur’an dan menjadikan ayat Allah sebagai acuan
hidupnya. Bagaimana bisa kita meninggalkan Al-Qur’an? Sedangkan Al-Qur’an
adalah kalamullah yang menjadi petunjuk dan pedoman hidup kita. Ayat-ayat Allah
menjadi acuan hidup kita selama di dunia ini. Sebab segala aturan, penjelasan
seisi dunia dan alam semesta ini lengkap di dalam Al-Qur’an. Lantas bagaimana
bisa meninggalkannya? Semoga Allah jaga kita tetap dekat dengan Al-Qur’an ya
muslimah.
Membaca Al-Qur’an akan memberikan syafaat kelak kepada kita di hari kiamat. Selain itu juga banyak sekali keutamaan-keutamaan ketika kita membaca Al-Qur’an, antara lain:
- Sebaik-baiknya manusia adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya (HR Tirmidzi)
- Kelak akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah (HR. Bukhari Muslim)
- Bagi yang masih terbata-bata dalam membacanya, Allah akan memberikannya dua pahala (HR. Bukhari Muslim)
- Derajatnya akan diangkat oleh Allah SWT (HR. Muslim)
- Orang yang membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan mendapat ketenangan dan diberikan naungan oleh para malaikat
- Dihindarkan dari sifat iri dan dengki
- Orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapat jaminan ditempatkan oleh Allah SWT di Surga (HR. Ibnu Majah)
- Serta orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terbuka, sedangkah yang membaca dengan perlahan akan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi. (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Keempat,
menjauhi safar tanpa mahram. Sebuah hadis yang haruslah menjadi pengingat bagi
kita, yakni:
“Tidaklah
halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar
sehari semalam tanpa disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 1088 dan Muslim,
no. 1339)
“Hendaklah
wanita tidak bersafar selama dua hari kecuali bersama suami atau mahramnya.”
(HR. Bukhari, no. 1197).
Terdapat
fatwa majlis al-ifta’ nomor 92 mengenai hukum safar tanpa mahram, bahwasannya
hukumnya boleh. Fatwa ini saya temukan di sebuah artikel yang dimana tentu saja
safar yang dimaksud memiliki persyaratan, yakni; jalan dipenuhi rasa aman, selamat dari godaan, safar perempuan ditemani oleh
perempuan yang tsiqqah (terpercaya), mengenakan pakaian syar’i serta
memperhatikan akhlak dan adab Islami, safarnya dengan menggunakan angkutan umum
dan ditemani perempuan yang terpercaya, kemudian mukim atau menetap dengan
perempuan terpercaya yang dikenal dengan ketakwaan dan berakhlak yang lurus.
Kelima,
tidak menyentuh atau berjabat tangan dengan yang bukan mahram. Siapa saja
mahram dan bukan mahram sudah saya jabarkan di tulisan sebelumnya. Hadist ini
menjadi acuan bagi kita untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan
mahram kita.
“Ditusuknya
kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada
menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20:
211)
Namun
pandangan dari Ulama Hanafiyah dan ulama Hambali memperbolehkan berjabat tangan
dengan bukan mahram dengan digarisbawahi dia orang yang sudah tua atau tidak
ada syahwat pada dirinya.

Komentar
Posting Komentar