Menjadi Muslimah Terbaik
Sebagai perempuan muslimah, kita pasti ingin menjadi perempuan yang terbaik. Tentu terbaik di hadapan Allah SWT nantinya. Agar ketika hari akhir, kita dapat mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat selama di dunia.
Diriwayatkan dari sahabat
Abu Udzainah
Ash-Shadafi radhiyallahu‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Sebaik-baik wanita di antara kalian adalah yang sangat sayang (cinta) kepada suami; yang memiliki banyak anak; tidak kasar; membantu suami dalam kebaikan; ketika mereka bertakwa kepada Allah. Dan seburuh-buruk wanita di antara kalian adalah yang suka berdandan/berhias (ketika keluar rumah); sombong; merekalah wanita-wanita munafik. Mereka tidak masuk surga, kecuali seperti burung gagak bersayap putih (maksudnya, sangat langka).” (HR. Baihaqi)
Diatas
merupakan sebuah hadis yang menyampaikan bagaimana sebaik-baiknya perempuan
dan seburuk-buruknya perempuan. Pasti kita sangat berharap dapat menjadi
sebaik-baiknya perempuan yang Allah maksud. Maka, mari kita sama-sama berusaha
menjadi pribadi muslimah terbaik itu.
Dalam
kajian nisa yang terdapat pada channel youtube Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Hafizhahullah,
beliau menjelaskan hadis diatas dengan jelas agar kita dapat lebih memahami
maknanya.
Pertaman
adalah Al-Wadud, yakni wanita yang penuh cinta dan kasih sayang dan bisa
mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayangnya tersebut. Siapa yang berhak
mendapatkan cintanya? Yakni suaminya.
Ucapan
dan perkataannya kepada suami haruslah baik dan jauh dari perkataan kasar.
Tidak menyakiti perasaan suaminya kelak dengan perkataan yang tidak baik.
Kemudian seorang muslimah harus menjaga tubuhnya, penampilan yang baik di rumah
dan diluar rumah dikenakan sesuai dengan mana yang membuat suami senang.
Memberikan
yang terbaik didalam keluarga dengan menyelesaikan segala tugas-tugas sebagai
ibu dan istri. Hal ini semua terlihat dengan akhlaknya yang penuh dengan rasa
cinta dan kasih sayang terhadap keluarganya. Sifat ini lah yang menjadi salah
satu kriteria muslimah terbaik.
Kedua,
Al-Walud yakni subur atau memiliki banyak anak. Namun perlu kita ketahui
apabila diuji dengan suatu penyakit atau adanya kendala pada tubuhnya sehingga
tidak dapat memiliki anak, maka itu tidak menghalanginya untuk menjadi muslimah
terbaik. Karena faktor ini bukan disengaja atau keinginannya yang tidak mau
memiliki anak. Allah pun tidak meminta pertanggungjawaban padanya nanti. Hal
ini tidak mengurangi kualitas keshalihahan perempuan tersebut.
Tetapi
jika perempuan yang subur lalu memutuskan untuk tidak melahirkan atau
menggugurkan bayinya tanpa uzur syar’i maka ini merupakan perbuatan yang Allah
larang.
Muslimah
terbaik akan berjuang untuk mendidik anaknya, tumbuh kembangnya kelak, serta menjadi
sebab lahirnya anak-anak terbaik ditengah masyarakat yang paham agama dengan
niat supaya menjadi anak yang shalih.
Ketiga,
Al-Muwatiyah, yaitu tidak kasar. Dalam sikap dan perkataannya jauh dari perkataan
kasar dan keras. Kesehariannya suka mendengar, taat, dan berusaha menjalankan
perintah serta arahan (responsif).
Muslimah
yang memiliki sifat ini akan menjauhi sikap; menolak permintaan suami selagi
bukanlah hal yang haram, menyombongkan diri dan merasa tinggi dihadapan
suaminya, dari segi harta, ilmu, serta ia tidak ada kedurhakaan pada suaminya. Bisa
dikatakan Al-Muwatiyah ini adalah ‘anti mengatakan tidak’ pada suami,
kecuali pada hal yang haram atau Allah larang.
Keempat,
Al-Muwasiyah, yakni perempuan yang senang membantu suaminya dalam
kebaikan. Berusaha untuk selalu berdiri disamping suaminya dalam keadaan apa
pun, lillahi ta’ala.
Membantu
suaminya berjuang dijalan ketaatan pada Allah dan mengingatkan agar tidak ada
harta haram didalam rumahnya.
Kelima,
bertakwa kepada Allah. Sifat-sifat mulia yang telah dijabarkan diatas akan
bermanfaat jika kita muslimah bertakwa kepada Allah SWT. Apabila motivasi kita
ingin menjadi muslimah terbaik bukan karena Allah, maka semuanya itu tidak akan
bermanfaat.
Wallahu'alam Bishawab
#30DaysWritingChallenge #30DWCjilid47 #30dwc #day13
Komentar
Posting Komentar