Muhasabah Cinta [3]
Hari ke hari Taufik semakin kepikiran tentang Meila. Setiap di kelas matanya tak luput dari memandang Meila. Ketika Meila balik melihat kearahnya, ia langsung pura-pura berpikir, memutarkan bola matanya, kadang dia tersenyum tipis untuk menyapa karena keburu malu ketahuan memperhatikan Meila.
“Mei, sepertinya Taufik tertarik denganmu,” Ucap
Andini yang sedang duduk disamping Meila.
“Dia dari tadi merhatiin kamu terus tuh. Serem banget
liatnya ihh” Tambahnya
Meila membalikkan badan menghadap ke tempat duduk
Taufik, “Fik, kamu kenapa? Kata Andini kok liatin aku terus?” Tanya Meila
spontan.
Andini membelalakkan matanya, tak menyangka Meila se-
to the point itu.
Taufik yang tadinya senyum-senyum sendiri berubah
menjadi ekspresi bingung dan takut karena sikapnya sendiri.
“Ngg.. anu, aku kepikiran presentase kita nanti siang
Mei hehe” jawabnya sambil menggaruk tengkuk kepala yang tidak gatal.
“Oh, santai aja. Nanti kamu dan Wira bacain bagian
kesimpulan, aman kok. Aku dan Andini yang ngejelasin materi. Kalo ada part
tanya-jawab, kamu jawab sebisanya saja.” Ucap Meila santai.
“Oh iya iya” balas Taufik menganggukkan kepalanya
dengan cepat.
Waktu istirahat makan siang pun selesai, sudah
waktunya masuk kelas statistika. Presentase pun akan dimulai oleh dosen.
Sepulang dari kampus, Taufik menghampiri Meila yang
berjalan ke arah gerbang utama kampus. “Mei.. mei” teriak Taufik. Meila menoleh
sekilas dan menghentikan langkahnya.
“Makasih ya udah banyak bantu di kelompok! Baru kali
ini aku gabung ke kelompok yang keren banget! Aku salut sama kamu Mei.” Ucap
Taufik menggebu-gebu dengan senyuman diakhir. Hampir saja dia memegang tangan
Meila dengan niat bersalaman dan mengucapkan terimakasih lagi. Namun Meila
buru-buru menarik tangannya menjauh.
Suasana menjadi canggung, namun sikap Meila yang
menjaga diri ini semakin membuat Taufik penasaran.
Bersambung…
#30dwcjilid47 #30dwc #day9
Komentar
Posting Komentar