Tahaadu Tahaabbu

Bismillahirrahmanirrahim

"Kalau dikasih hadiah dari orang lain, tidak perlu merasa itu menjadi hutang budi. Tetaplah bersyukur atas pemberian orang lain, namun balas budi bukan karena mereka telah memberi kita sesuatu tetapi karena kita juga ingin berbagi serta menjaga silaturahmi dengan mereka," sebuah perkataan Kang Suami yang sampai saat ini masih sangat aku ingat.

Aku termasuk yang suka mencatat pemberian orang lain, apalagi ketika kami menikah, juga saat aqiqahan anak, aku mencatat apa aja yang diberi oleh orang-orang baik aku kenal maupun tidak. Aku mencatat nama dan barang apa yang diberi, bahkan juga nama serta berapa jumlah uang yang disalamkan. Aku tidak tahu apakah ini hukumnya boleh atau tidak sebenarnya. Tetapi sehemat pengetahuanku, selama hal ini tidak menjadi pembandingan antara pemberian salah satu orang dengan yang lain, atau menjadi bentuk ketidaksyukuran atas pemberian orang lain, ini tidak lah apa-apa.

Mengapa aku catat? agar kelak saat orang yang memberiku hadiah tersebut dapat aku balas sesuai dengan apa yang telah ia beri. Mungkin bisa lebih, setidaknya tidak sampai kurang. Niatnya sih begitu. Bedanya, suamiku lebih mengarahkan agar memberi sesuai kemampuan dan kesanggupan, tidak perlu menjadikan pemberian orang lain sebagai ajang hutang budi.

Setelah ku renungi, pikir-pikir kembali, maksud dari kang suami memiliki tujuan yang baik, yakni agar aku tidak akan membanding-bandingkan kelak apa yang aku beri kepada orang lain dengan apa yang akan diberikan kepadaku nantinya. Istilahnya memang jangan sampai berpikir ketika kita memberi hadiah, maka orang tersebut sedang berhutang kepada kita. 

Terkadang hal-hal kecil seperti ini bisa dianggap sepele atau tidak mungkin akan terjadi. Namun perkara hati siapa yang akan tahu?

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

Jadi "Apakah mencatat pemberian orang lain itu salah? Jawabannya, tentu tidak. 

Begitu juga dengan mengingat-ingat kebaikan yang pernah kita terima, itu adalah bagian dari rasa syukur.

Yang menjadi keliru adalah ketika kita memberi dengan niat untuk 'menagih budi' di kemudian hari. 

Menghitung-hitung jasa seolah itu adalah piutang, apalagi sampai membeda-bedakan nilai seseorang hanya berdasarkan apa yang bisa mereka berikan kembali. 

Ketulusan tidak memiliki kalkulator, bukan?

"Sebab pada akhirnya, pemberian yang paling tenang adalah yang dilepaskan karena Allah, tanpa sisa hitungan di kepala."

Wallahu'alam bishawab


Rambutan enak
Abis ngambil rambutan bersama Aqsha di depan rumah

Ditulis setelah menidurkan Aqsha

27 Oktober 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Home Sweet Home