Kesabarannya Begitu Luas
Bismillahirrahmanirrahim
Halo blog! Rasanya sudah lama tidak bercerita panjang disini.
Alhamdulillah anak pertama kami sudah berusia 14 bulan tepat di tanggal 17 kemarin, biidznillah.
Menjadi ibu membuatku belajar lagi untuk mengenal diri, lebih memahami kembali kepribadian, emosi, bahkan mengingat masa laluku yang mungkin sama sekali tidak pernah terpikir olehku sebelumnya.
Menjadi perfeksionis ternyata tidak sebagus itu ketika kita menjalankan peran sebagai orang tua. Ada masa dimana kita harus menerima keadaan yang mungkin tidak sesuai ekspektasi dan keinginan.
Salah satunya adalah kerapian rumah. Mungkin karena kebiasaan keluarga yang mewajibkan rumah rapi, selalu beberes, kalau ga rapi akan dibilang pemalas, menjadikannku lelah sendiri ketika Aqsha bermain dan membuat rumah jauh dari kata 'rapi'.
Padahal, Kang Suami selalu mengatakan bahwa aku tidak perlu repot-repot untuk selalu membersihkan rumah, merapikan barang-barang yang diberantakin anak, tidak perlu repot bolak-balik menyapu dan mengepel, dan sebagainya. Tapi tetap saja, masih ada gejolak hati yang berkata lain. Sehingga mengakibatkan rasa gelisah di diriku ketika melihat keadaan rumah.
Pernah aku berusaha untuk membiarkan kondisi rumah yang berantakan dengan mainan anak, tidak hanya mainan: piring, sendok, cangkir, sapu, kain-kain pun ikut berserakan dimana-mana. Namun saat anak tertidur, aku tetap saja melihatnya risih. Alhasil dirapikan ulang, kemudian diserakin lagi oleh Aqsha.
MasyaAllah ya menjadi seorang ibu. Ia rela mengulangi setiap pekerjaannya: mencuci piring, memasak, menyuci baju, menyapu, menyuapi anak makan, semuanya ia lakukan tanpa menuntut ini dan itu.
Terkadang tersadar kembali dengan kondisi diri yang masih terbilang jauh dari kata sosok ibu yang baik atau sosok orang tua sempurna. Masih perlu banyak belajar lagi, banyak interospeksi diri terus, dan selalu muhasabah untuk menjadi lebih baik setiap waktu.
Teruntuk Kang Suami, alhamdulillah 'alaa kulli hal. Kang, Jazakallah Khayran ya sudah selalu membersamai prosesku menjadi seorang ibu. Sudah mau menemani dan membantuku untuk berkembang. Tidak hanya materi yang engkau berikan untuk kami, namun cinta, kasih, sayang, seluruhnya telah engkau relakan untukku dan anak kita. Aku sangat berterima kasih, tentunya semua atas izin Allah.
Kesabaranmu sangat luas, kadang aku merasa malu. Aku masih sering kesal, kadang ngomel tidak jelas, tapi dirimu tetap memberikan senyuman tulus untuk meruntuhkan amarahku.
Semoga Allah merahmatimu, suamiku. Dan semoga kelak Allah mengumpulkan kita bersama orang-orang shalih yang Dia ridhoi. Allahumma aamiin.
| Aqsha bersama Ayah menunggu bus listrik mau jalan-jalan |
Ditulis, 23 September 2025
Sehabis menidurkan Aqsha
Komentar
Posting Komentar