Postingan

Mengapa Mengajak Bayi Bicara Itu Penting?

Gambar
Kemarin waktu lagi main di luar, Aqsha sempat bermain dengan seorang anak perempuan yang kelihatannya seusia dengannya. Tinggi badan mereka hampir sama, bahkan Aqsha sedikit lebih tinggi dari anak tersebut. Lucu sekali melihat dua toddler bermain bersama. Mereka saling kejar-kejaran, tertawa, lalu main ciluk-ba seolah sudah lama berteman. Karena waktu itu aku sedang cukup lelah, aku tidak terlalu dekat memperhatikan Aqsha bermain. Aku hanya melihat dari jauh sambil sesekali memantau, apalagi ada ayahnya juga yang ikut menjaga. Tidak lama kemudian, orang tua anak perempuan itu menghampiriku. “Mbak, kayaknya mereka sepantaran ya?” Aku mengangguk sambil tersenyum. “Iya mbak, nyambung mainnya.” Beliau lalu bertanya lagi, “Usianya berapo mbak?” “1 tahun 9 bulan, bulan ini mau masuk 10 bulan,” jawabku. Mereka langsung saling menatap cukup kaget. “Loh? Anak kami sudah 2 tahun lebih mbak. 2 tahun 5 bulan kalau tidak salah. Pintar nian anaknya mbak, sudah bisa diajak ngobrol. Kosakatanya banyak...

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Gambar
  Ciwidey, 2025 Bagi kita, kebanyakan orang, sahur sering kali dianggap sebagai beban atau sekadar "prosedur" agar kuat menahan lapar hingga maghrib tiba. Pemahaman awam kita biasanya berputar pada urusan kuantitas, seperti makan sebanyak mungkin, minum sebanyak mungkin, sholat shubuh, lalu tidur lagi. Namun, setelah menyelami materi Nutrients Dense Sahoor & Iftar kemarin, perspektif ku tentang makna sahur jadi berubah. Sahur ternyata jauh lebih kompleks dan indah dari sekadar ritual makan di dini hari. 1. Restorasi Fisik dan Nutrisi Jiwa Secara biologis, puasa adalah momen di mana kita tuh mengistirahatkan sistem pencernaan yang sudah bekerja tanpa henti. Namun, ada sisi spiritual yang sering terlupakan. Saat fisik beristirahat dari makanan, aktivitas ibadah di waktu sahur justru menjadi "makanan" bagi tubuh spiritual kita. Materi kemarin menekankan bahwa dengan menguatkan energi hati melalui kedekatan dengan Sang Pencipta, makanan yang kita konsumsi saat sahur...

Sign to Start

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim   Tahun ini aku belajar satu hal penting bahwa hidup tidak selalu tentang berlari cepat, namun juga tentang bertahan dengan niat yang lurus. Menjadi ibu anak satu, dengan ritme hari yang penuh jeda dan kejutan, aku mendapati diriku sering berbicara pada langit; melalui istighfar saat lelah, dan hamdalah saat mampu. Di antara rumah yang kembali berantakan, tubuh yang diusahakan tetap sehat, mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kecil kami, hingga suara kecil yang mulai memanggil “Umma”, aku menyadari bahwa fase ini bukan lah tentang kesempurnaan. Ini tentang hadir, berdaya, dan menerima bahwa setiap proses adalah izin Allah yang sedang bekerja. Tujuh kalimat ini menjadi sebuah catatan kecilku di tahun ini , mengenai iman, keluarga, waktu, dan pertumbuhan yang pelan tapi nyata. 1. "Tetaplah berdaya dengan niat lillahi ta'ala" ➡️ 2025 ini fase dimana seorang ibu anak satu ini merasakan tetap produktif dari rumah dan diluar rumah dengan peran barun...

Tahaadu Tahaabbu

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim "Kalau dikasih hadiah dari orang lain, tidak perlu merasa itu menjadi hutang budi. Tetaplah bersyukur atas pemberian orang lain, namun balas budi bukan karena mereka telah memberi kita sesuatu tetapi karena kita juga ingin berbagi serta menjaga silaturahmi dengan mereka," sebuah perkataan Kang Suami yang sampai saat ini masih sangat aku ingat. Aku termasuk yang suka mencatat pemberian orang lain, apalagi ketika kami menikah, juga saat aqiqahan anak, aku mencatat apa aja yang diberi oleh orang-orang baik aku kenal maupun tidak. Aku mencatat nama dan barang apa yang diberi, bahkan juga nama serta berapa jumlah uang yang disalamkan. Aku tidak tahu apakah ini hukumnya boleh atau tidak sebenarnya. Tetapi sehemat pengetahuanku, selama hal ini tidak menjadi pembandingan antara pemberian salah satu orang dengan yang lain, atau menjadi bentuk ketidaksyukuran atas pemberian orang lain, ini tidak lah apa-apa. Mengapa aku catat? agar kelak saat orang yang member...

Ikut Berpetualang Bersama Zaman Zulkarnaen dalam Buku Tentang Kamu karya Tere Liye

Pendahuluan Ada sesuatu yang berbeda dari buku Tentang Kamu karya Tere Liye. Sejak halaman pertama, aku merasa tidak hanya membaca sebuah kisah, tetapi ikut berpetualang ke dalamnya. Tere Liye menulis dengan cara yang sederhana namun dalam, membuat setiap bab terasa hidup dan penuh makna. Perjalanan Zaman Zulkarnaen Menemukan Sri Ningsih Tokoh utama dalam kisah ini adalah Zaman Zulkarnaen , seorang pengacara muda yang cerdas dan ambisius. Ia ditugaskan untuk menelusuri identitas seorang wanita tua bernama Sri Ningsih , yang meninggal dunia tanpa ahli waris, namun meninggalkan warisan besar. Tugas itu membawanya dari London menuju kampung kecil di Sumbawa, lalu ke berbagai kota di Eropa. Di setiap tempat, Zaman menemukan potongan hidup Sri Ningsih — tentang perjuangan, kehilangan, cinta, dan keikhlasan yang membuat kisah ini begitu menyentuh. Keinginan untuk Ikut Berpetualang Bersama Zaman Membaca buku ini membuatku ingin sekali ikut berpetualang bersama Zaman. Aku membayangkan du...

Home Sweet Home

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim Setelah menikah, aku dan kang suami sempat tinggal mengontrak kurang lebih tiga bulan. Kontrakan yang kami tinggalin itu termasuk rumah yang bagus dan besar; terdapat 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, dan 3 ruang tengah, dapur luas, ada garasi motor, bahkan ada juga tempat menjemur dibelakang rumah. Luas sekali kan? kalau dipikir-pikir, tinggal hanya berdua untuk apa rumah seluas itu? Kalau kata kang suami, jawabannya sih, "Biar istriku nyaman".  Tiga bulan setelahnya kami mendapatkan rumah dinas. Rumah dinas ini lebih dekat ke kantor suami, orang-orang di komplek juga semuanya adalah satu kantor dengan kang suami. Awalnya kami bingung antara pindah atau tidak, alasan pertama karena kami sudah membayar uang kontrakan full satu tahun. Kedua, rumah dinas yang diberikan juga masih harus banyak renovasi.  Biidznillah, akhirnya kami sepakat untuk pindah. Rumah dinas direnovasi, dan cukup lumayan besar biaya renovnya. Syukurnya juga rumah kontrakan sebelumnya b...

Kesabarannya Begitu Luas

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim Halo blog! Rasanya sudah lama tidak bercerita panjang disini. Alhamdulillah anak pertama kami sudah berusia 14 bulan tepat di tanggal 17 kemarin, biidznillah. Menjadi ibu membuatku belajar lagi untuk mengenal diri, lebih memahami kembali kepribadian, emosi, bahkan mengingat masa laluku yang mungkin sama sekali tidak pernah terpikir olehku sebelumnya. Menjadi perfeksionis ternyata tidak sebagus itu ketika kita menjalankan peran sebagai orang tua. Ada masa dimana kita harus menerima keadaan yang mungkin tidak sesuai ekspektasi dan keinginan. Salah satunya adalah kerapian rumah. Mungkin karena kebiasaan keluarga yang mewajibkan rumah rapi, selalu beberes, kalau ga rapi akan dibilang pemalas, menjadikannku lelah sendiri ketika Aqsha bermain dan membuat rumah jauh dari kata 'rapi'. Padahal, Kang Suami selalu mengatakan bahwa aku tidak perlu repot-repot untuk selalu membersihkan rumah, merapikan barang-barang yang diberantakin anak, tidak perlu repot bolak-ba...