Postingan

Sebuah Pengingat Hidup

Gambar
Belum Baik, Tapi Terus Belajar Menjadi Lebih Baik chat salah satu murid tahsin saat di Medan   Chat salah satu teman 🥹 Belum baik, atau mungkin sesungguhnya aku masih sangat jauh dari kata “baik” itu sendiri. Apalagi jika disebut sebagai perempuan yang menginspirasi. Rasanya, masih jauh sekali Ya Rabb. Justru karena itu, aku sering melakukan introspeksi diri, bertanya kepada diri sendiri, lalu juga terkadang menceritakannya kepada Kang suami. Aku memang sering mendapatkan pesan dari teman-teman yang mendukung dan menyemangati apa yang aku kerjakan. Ada pula yang memberikan pujian, baik dari teman yang sudah dekat maupun dari mereka yang bahkan tidak terlalu kukenal. Namun, di balik pesan-pesan itu, ada perasaan lain yang muncul dalam diriku, yakni takut. Jujur, aku sering merasa khawatir dengan diriku sendiri. Sebab aku sadar, mungkin orang lain hanya melihat apa yang tampak dari luar. Mereka melihat apa yang aku bagikan, apa yang aku kerjakan, dan kebaikan-kebaikan yang terlihat...

Hai Bu, Tidak Semua Perjalanan yang Sama

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim Setiap kisah perjalanan menjadi seorang ibu pasti berbeda-beda. Begitulah alur kehidupan setiap manusia. Kita mungkin menjalani peran yang sama, tetapi jalan yang ditempuh untuk sampai ke sana tidak pernah benar-benar sama. Setelah menjalani peran sebagai ibu selama kurang lebih dua tahun, biidznillah proses melahirkan, menyusui, MPASI, menyapih, hingga toilet training yang aku jalani bersama anak pertama kami, Aqsha, Allah mudahkan dan lancarkan. Tentu ada sedikit drama di dalamnya. Seperti proses pembukaan yang cukup lama hingga akhirnya harus diinduksi saat persalinan, atau ASI yang tidak langsung deras di awal menyusui. Namun, alhamdulillah, Allah tetap memberikan kemudahan. Aqsha masih mendapatkan kolostrum yang cukup di masa awal menyusuinya. Belakangan ini, aku senang sekali mendengar kabar bahagia dari teman-teman yang baru saja melahirkan dan memulai peran baru sebagai seorang ibu. Namun, dari cerita mereka, aku kembali disadarkan bahwa perjalanan seti...

Menyapih Aqsha

Biidznillah, sejak dari proses menyapih kemarin, ternyata melihat anak bisa tidur sendiri tanpa ASI lagi nggak sesulit yang dulu pernah aku bayangkan.  Bahkan sekarang kalau dia ngantuk, cukup bilang, "Umma, Aa ngantuk," sambil menguap, lalu ngajak ke kamar dan minta dipeluk. Dulu aku sering berpikir, "Gimana ya nanti kalau anak yang dari bayi selalu menyusu setiap mau tidur harus berhenti ASI? Apa dia bisa tidur sendiri?" Ternyata atas izin Allah, semua ada masanya. Pelan-pelan Aqsha belajar, dan aku pun belajar untuk percaya bahwa setiap fase akan berlalu. Kalau ada yang bertanya , "Apa yang dilakukan sebelum menyapih?" Mungkin ini beberapa hal yang menurutku bisa membantu. 1. Mencoba tidak menjadikan ASI sebagai satu-satunya cara menidurkan. Sejak sebelum usia dua tahun, sesekali coba untuk menidurkannya dengan cara lain, seperti dipeluk, dielus, ditepuk lembut, atau dibacakan doa dan dzikir sebelum tidur. Jadi, anak mengenal bahwa rasa nyaman tidak ha...

Mengapa Mengajak Bayi Bicara Itu Penting?

Gambar
Kemarin waktu lagi main di luar, Aqsha sempat bermain dengan seorang anak perempuan yang kelihatannya seusia dengannya. Tinggi badan mereka hampir sama, bahkan Aqsha sedikit lebih tinggi dari anak tersebut. Lucu sekali melihat dua toddler bermain bersama. Mereka saling kejar-kejaran, tertawa, lalu main ciluk-ba seolah sudah lama berteman. Karena waktu itu aku sedang cukup lelah, aku tidak terlalu dekat memperhatikan Aqsha bermain. Aku hanya melihat dari jauh sambil sesekali memantau, apalagi ada ayahnya juga yang ikut menjaga. Tidak lama kemudian, orang tua anak perempuan itu menghampiriku. “Mbak, kayaknya mereka sepantaran ya?” Aku mengangguk sambil tersenyum. “Iya mbak, nyambung mainnya.” Beliau lalu bertanya lagi, “Usianya berapo mbak?” “1 tahun 9 bulan, bulan ini mau masuk 10 bulan,” jawabku. Mereka langsung saling menatap cukup kaget. “Loh? Anak kami sudah 2 tahun lebih mbak. 2 tahun 5 bulan kalau tidak salah. Pintar nian anaknya mbak, sudah bisa diajak ngobrol. Kosakatanya banyak...

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Gambar
  Ciwidey, 2025 Bagi kita, kebanyakan orang, sahur sering kali dianggap sebagai beban atau sekadar "prosedur" agar kuat menahan lapar hingga maghrib tiba. Pemahaman awam kita biasanya berputar pada urusan kuantitas, seperti makan sebanyak mungkin, minum sebanyak mungkin, sholat shubuh, lalu tidur lagi. Namun, setelah menyelami materi Nutrients Dense Sahoor & Iftar kemarin, perspektif ku tentang makna sahur jadi berubah. Sahur ternyata jauh lebih kompleks dan indah dari sekadar ritual makan di dini hari. 1. Restorasi Fisik dan Nutrisi Jiwa Secara biologis, puasa adalah momen di mana kita tuh mengistirahatkan sistem pencernaan yang sudah bekerja tanpa henti. Namun, ada sisi spiritual yang sering terlupakan. Saat fisik beristirahat dari makanan, aktivitas ibadah di waktu sahur justru menjadi "makanan" bagi tubuh spiritual kita. Materi kemarin menekankan bahwa dengan menguatkan energi hati melalui kedekatan dengan Sang Pencipta, makanan yang kita konsumsi saat sahur...

Sign to Start

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim   Tahun ini aku belajar satu hal penting bahwa hidup tidak selalu tentang berlari cepat, namun juga tentang bertahan dengan niat yang lurus. Menjadi ibu anak satu, dengan ritme hari yang penuh jeda dan kejutan, aku mendapati diriku sering berbicara pada langit; melalui istighfar saat lelah, dan hamdalah saat mampu. Di antara rumah yang kembali berantakan, tubuh yang diusahakan tetap sehat, mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kecil kami, hingga suara kecil yang mulai memanggil “Umma”, aku menyadari bahwa fase ini bukan lah tentang kesempurnaan. Ini tentang hadir, berdaya, dan menerima bahwa setiap proses adalah izin Allah yang sedang bekerja. Tujuh kalimat ini menjadi sebuah catatan kecilku di tahun ini , mengenai iman, keluarga, waktu, dan pertumbuhan yang pelan tapi nyata. 1. "Tetaplah berdaya dengan niat lillahi ta'ala" ➡️ 2025 ini fase dimana seorang ibu anak satu ini merasakan tetap produktif dari rumah dan diluar rumah dengan peran barun...

Tahaadu Tahaabbu

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim "Kalau dikasih hadiah dari orang lain, tidak perlu merasa itu menjadi hutang budi. Tetaplah bersyukur atas pemberian orang lain, namun balas budi bukan karena mereka telah memberi kita sesuatu tetapi karena kita juga ingin berbagi serta menjaga silaturahmi dengan mereka," sebuah perkataan Kang Suami yang sampai saat ini masih sangat aku ingat. Aku termasuk yang suka mencatat pemberian orang lain, apalagi ketika kami menikah, juga saat aqiqahan anak, aku mencatat apa aja yang diberi oleh orang-orang baik aku kenal maupun tidak. Aku mencatat nama dan barang apa yang diberi, bahkan juga nama serta berapa jumlah uang yang disalamkan. Aku tidak tahu apakah ini hukumnya boleh atau tidak sebenarnya. Tetapi sehemat pengetahuanku, selama hal ini tidak menjadi pembandingan antara pemberian salah satu orang dengan yang lain, atau menjadi bentuk ketidaksyukuran atas pemberian orang lain, ini tidak lah apa-apa. Mengapa aku catat? agar kelak saat orang yang member...