Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Rahasia Waktu Kecil

Saat Abah sudah bisa naik motor, hampir setiap sore beliau mengajakku jalan-jalan. Kadang kami pergi ke lapangan olahraga, ke pasar, atau sekadar berkeliling di sekitar rumah. Suatu sore, Abah membawaku ke daerah belakang rumah warga, kawasan kebun-kebun yang sepi. Aku menyebut momen itu sebagai turbo, karena Abah biasanya ngebut di jalanan tersebut. Rasanya seru sekali! Namun, pada suatu ketika, aku terjatuh. Badanku terseret dari atas motor, sementara tanganku masih berusaha menggenggam motor yang melaju. Abah pun belum sadar, masih saja menggas motornya. Kakiku cukup banyak terluka, terkena duri-duri di pinggir jalan kebun. Alhamdulillah, lukanya cepat pulih dan tidak meninggalkan bekas. Setelah kejadian itu, aku dan Abah sepakat untuk tidak menceritakannya kepada Mama dan Ayah. Tapi seiring berjalannya waktu, saat kami sudah dewasa, kisah ini akhirnya menjadi bahan obrolan keluarga yang penuh tawa. Ah, sungguh kenangan masa kecil yang luar biasa~ #tautannarablog #day28

Vibes Bocil 2000-an

Gambar
  Hari minggu pagi sampai siang biasanya menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu untuk menonton televisi.  Karena banyak stasius televisi yang menayangkan kartun, anime, atau film-film karakter yang cocok untuk anak-anak pada umumnya.  Selain di hari libur, di weekdays biasanya juga tetap ada siaran yang cocok ditonton untuk anak-anak. Aku masih ingat sekali siaran televisi dulu; ada Doraemon, Naruto, One Piece, SpongeBob SquarePants, Dragon Ball, The Powerpuff Girls, Avatar: The Last Airbender, InuYasha, Detective Conan, dan masih banyak lagi.  Coba deh kalau sekarang, siaran televisi isinya sudah tidak mendidik, selain tidak mendidik juga banyak yang tidak baik ditonton oleh anak dibawah umur. Udah jarang banget ada kartun atau anime.  Angkat tangannya dong anak 2000-an 🖐️👋 #tautannarablog #day24

Hillpark: Liburan 2012

Gambar
pic from pinterest Tahun 2012, aku masih duduk di kelas 6 SD. Itu pertama kalinya aku mencoba wahana bianglala yang besar sekali. Kalau biasanya aku hanya naik bianglala di pasar malam, kali ini berbeda—bianglala raksasa di sebuah tempat wisata bernama Hillpark . Setelah ujian nasional, sekolah kami mengadakan liburan bersama ke Brastagi dan Hillpark. Aku masih ingat jelas, awalnya ada dua pilihan: mau ke Hillpark atau Mickey Holiday . Setelah musyawarah dan voting seluruh murid kelas 6, suara terbanyak jatuh pada Hillpark . Wahana di sana benar-benar seru, jauh berbeda dengan yang biasa kulihat di pasar malam. Wahana pertama yang aku coba bersama teman-teman adalah kora-kora . Begitu naik, semua orang berteriak, merasakan adrenalin bercampur tawa. Lalu, kami mencoba bianglala yang tinggi sekali. Dari atas, pemandangannya menakjubkan—pegunungan, rumah-rumah warga, dan langit biru yang luas. Saat itu aku punya lima teman dekat. Kami menyebut diri kami Super Six Girls (SSG) . Alay sekal...

Melati dan Abang Kelas

Tema nulis hari ini adalah tentang romansa masa kecil. Honestly bingung mau nulis apa sih tentang romansa masa kecil gini. Masa kecil pasti masa dimana masih sibuk main, sibuk ngejahilin temen, kalau pun ada yang saling suka mungkin itu yang dimaksud dengan cinta monyet.  Aku jadi inget saat kelas 4 SD, aku punya teman yang terbilang cantik di kelasku, ya tapi dia cukup centil juga. Kami satu organisasi sekolah, yaitu ikut marching band. Nah, di organisasi marching band itu, ada abang kelas yang naksir sama teman aku ini, sebut saja namanya Melati.  Btw, aku cukup kenal dengan si abang kelas tersebut. Karena dia satu sekolah madrasah denganku (sekolah ngaji siang — membahas fikih, nahwu, dll).  Karena kondisinya aku teman si Melati dan si abang kelas kenal denganku, jadi aku sering banget menjadi perantara untuk menyampaikan surat antar mereka. Hampir setiap hari bahkan.  Lucunya, terkadang si abang kelas ngasih aku cemilan; cokelat, wafer, dan lainnya sebagai bentuk...

Jajanan Seribuan

"1 es cekek dan 1 pisang goreng" Dulu waktu masih kelas 1 SD ,uang jajanku di sekolah termasuk tidak banyak. Aku ingat banget uang jajanku hanya Rp1000. Terkadang aku masih sempat menyisihkan 500 rupiahnya dengan rela hanya jajan 1 es teh dan 1 pisang goreng. Harga es teh masih 250 rupiah saat itu, harga gorengan juga masih 250 rupiah. Nah, seingatku itu tahun 2005-2006.  Semakin naik kelas, uang jajan juga bertambah. Tapi tidak banyak, paling ditambah Mama 500 rupiah saja. Ya tentunya tetap senang sih karena uang jajan bertambah, jadi bisa upgrade jajanan. Haha.   Kalau yang ngasih uang jajan Ayah, pasti rasanya beda. Karena biasanya Ayah akan ngasih uang jajan lebih banyak dibanding Mama. Dulu pernah aku lupa minta uang saku ke mama, alhasil Ayah memberi uang jajan untukku ketika mengantar di depan gerbang sekolah. Senang bukan main, karena Ayah ngasih uang 5000 rupiah. Mendadak punya banyak uang untuk bisa jajan ini dan itu.  Tapi kalau sekarang, uang 500 rupiah k...

17 Agustusan

Hari ini adalah hari lahirnya Indonesia yang ke - 80 tahun.  Umur bertambah, itu tandanya juga waktu sudah banyak berlalu.  Masa-masa ketika Indonesia belum menginjak pada usia 80 tahun. Umurku saja belum bisa mengimbanginya, sangat jauh. Setengah umur Indonesia pun tidak ada.  Setiap tanggal 17 Agustus, pasti rakyat Indonesia akan beramai-ramai memeriahkan hari kemerdekaan ini. Entah itu dengan perlombaan, kegiatan antar warga, gotong-royong, dan aktivitas lainnya yang menggugah semangat masyarakat dan mengumpulkan masyarakat saling bersilaturahmi. Waktu SD dulu, aku termasuk anak yang sering ikut perlombaan 17-an di sekolah, kalau tidak lingkungan rumah tidak sih. Karena biasanya di lingkungan rumah malah lebih sering perlombaan untuk ibu-ibu dan bapak-bapak saja.  Di sekolah, aku pernah ikut tarik tambang, berpidato, masukkan jarum ke dalam benang, bahkan pernah juga memindahkan belut ke botol, dan lainnya. Asik dan seru, apalagi di sekolah jadinya ditiadakan wakt...

Lagu Tidak Berkaki dan Bertangan

"Ada sebuah benda… hanya mengangguk saja… tidak berkaki, tidak bertangan, tetapi dapat berjalan… kikuk… kikuk…" Begitu potongan lirik itu terdengar, ingatanku langsung melompat jauh ke masa kecil. Lagu itu bukan sekadar irama dan kata—ia adalah pintu yang membawaku pulang ke ruang tamu rumah kami, di mana adikku, haikal namanya, ia duduk manis di depan tv yang sedang memutar video dengan lagu anak-anak kesukaannya. Matanya tampak berbinar senang, tubuhnya ikut bergoyang pelan mengikuti nada. Waktu itu, lagu anak-anak masih menjadi teman bermain yang setia. Ada banyak lagu yang kami dengar, tapi entah mengapa lagu "kikuk kikuk" ini selalu menempel paling kuat di ingatan. Mungkin karena nadanya ringan dan lucu, atau mungkin karena kami selalu menirukan gerakan "mengangguk" saat lagu itu diputar. Ah lucunya. Sembari juga saling menebak apa yang dimaksud dari lagu tersebut. Adikku akan memutarnya berulang-ulang, sampai Mama tersenyum sambil berkata,"La...