Semua Urusan Menggunakan Uang Tunai

 

yolanda anjani

“Gampang itu bisa diatur, tapi nanti ada itunya ya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.

Aku bingung dengan maksud perkataannya, “Apa itunya bang?” tanyaku.

“Kau pura-pura bodoh pula. Ya biasa lah! Duit!” jawabnya sambil senyum-senyum penuh maksud.

Aku terdiam dan bingung. Mau ngurus apa-apa di negeri ini berujung duit. Selalu ada upetinya. Heran aja, gimana mau maju kalau mau ngurus berkas yang berhubungan dengan dinas tertentu saja harus menggunakan suap. Lucunya pemalakan ini malah tertuju kepada orang-orang yang menengah kebawah. Masyarakat yang pendapatan per bulannya pun hanyak cukup untuk kebutuhan hidup, boro-boro beli tas seharga 100 juta. Bisa untuk biaya hidup aja udah syukur alhamdulillah.

“Lah mau ngurus surat pun harus disogok dulu orang kantor dinas tuh?” Tanyaku penasaran.

“Mana ada lagi yang gratis di dunia ini. Kencing aja kau bayar dua ribu!” Jawabnya setengah tertawa. Aku tahu dia sedang meledekku.

“Kalau kau mau gak bayar, antre aja sana sendiri. Besok pagi pasti dah rame itu orang-orang berjejer didepan pintu haha. Dan belum tentu juga bisa siap satu hari itu berkasmu,” Tambahnya dengan gelak tawa.

Aku memilih beranjak pergi. Bisa pusing kepala ini jika berlama-lama ngobrol dengan orang sepertinya. Lebih baik aku lakukan dengan sesuai prosedur yang sebenarnya saja, daripada harus membayar upeti yang tidak tahu untuk apa mereka pergunakan nantinya.

“Toh juga lebih baik berusaha daripada harus bergantung kepada orang lain yang tidak jelas,” ucapku pelan pada diri sendiri.


_______________________

ditulis untuk tema menulis hari ke-22 dari 30 Days Writing Challenge | 02 Oktober 2024

#30DWCjilid47  #30DWC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home