Semua Urusan Menggunakan Uang Tunai
“Gampang itu bisa diatur, tapi nanti ada itunya ya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku bingung dengan maksud perkataannya, “Apa itunya bang?”
tanyaku.
“Kau pura-pura bodoh pula. Ya biasa lah! Duit!” jawabnya
sambil senyum-senyum penuh maksud.
Aku terdiam dan bingung. Mau ngurus apa-apa di negeri ini
berujung duit. Selalu ada upetinya. Heran aja, gimana mau maju kalau mau ngurus
berkas yang berhubungan dengan dinas tertentu saja harus menggunakan suap. Lucunya
pemalakan ini malah tertuju kepada orang-orang yang menengah kebawah. Masyarakat
yang pendapatan per bulannya pun hanyak cukup untuk kebutuhan hidup, boro-boro
beli tas seharga 100 juta. Bisa untuk biaya hidup aja udah syukur alhamdulillah.
“Lah mau ngurus surat pun harus disogok dulu orang kantor
dinas tuh?” Tanyaku penasaran.
“Mana ada lagi yang gratis di dunia ini. Kencing aja kau
bayar dua ribu!” Jawabnya setengah tertawa. Aku tahu dia sedang meledekku.
“Kalau kau mau gak bayar, antre aja sana sendiri. Besok pagi
pasti dah rame itu orang-orang berjejer didepan pintu haha. Dan belum tentu
juga bisa siap satu hari itu berkasmu,” Tambahnya dengan gelak tawa.
Aku memilih beranjak pergi. Bisa pusing kepala ini jika
berlama-lama ngobrol dengan orang sepertinya. Lebih baik aku lakukan dengan
sesuai prosedur yang sebenarnya saja, daripada harus membayar upeti yang tidak
tahu untuk apa mereka pergunakan nantinya.
“Toh juga lebih baik berusaha daripada harus bergantung
kepada orang lain yang tidak jelas,” ucapku pelan pada diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar