Cerita Buku : Manajemen Waktu Para Ulama

Cerita Buku : Manajemen Waktu Para Ulama–by @yolandamrp

Judul                           : Manajemen Waktu Para Ulama (Qimatuz Zaman ‘indal ‘Ulama)

Penulis                        : Syaikh Abdul Fatah

Penerbit                       : Maktab Al-Mathbu’ Al-Islamiyyah

Tahun terbit                 : Cetakan V - Januari 2020

Jumlah Halaman         : 212 halaman

Manajemen Waktu Para Ulama ditulis oleh Syaikh Abdul Fatah. Buku ini merupakan sebuah potret gemilang atas keberhasilan manusia shalih (para ulama) dalam mengatur waktu dalam hidupnya. Mereka adalah potret manusia luar biasa dalam mengelola hidupnya, terutama dalam memenej waktu, sehingga setiap detik waktu yang mereka miliki akan sangat bermanfaat. Setiap relung hidupnya senantiasa memancarkan sejuta kebaikan.

Ibnu Suhnun, yang berburu waktu hingga ia lupa untuk makan. Dikisahkan dalam buku ini, Ibnu Suhnun memiliki seorang budak yang hendak berizin masuk ke kamarnya untuk mengantar makanan. Namun beliau mengatakan bahwa dia sedang sibuk. Pada akhirnya karena terlalu lama budak tersebut menunggu, sang budak pun menyuapkan makanan kepada Ibnu Suhnun sambil beliau pun menguyahnya. Hal itu berlangsung lama, dan beliau tetap dalam kondisi menulis. Saat tiba waktu shubuh, beliau berkata, “Maaf, aku sangat sibuk, sehingga melupakanmu tadi malam, wahai Ummu Mudan! Tolong berikan makanan yang engkau tawarkan tadi malam!” “Tuanku, demi Allah, aku sudah menyuapkannya ke mulutmu,” ujar budak itu heran. “Lho kok aku tidak merasakannya?” tanya Ibnu Suhnun lebih heran lagi.

Dengan memenejemen waktunya, para ulama berhasil membuahkan banyak karya ilmu yang sampai saat ini kita rasakan manfaatnya. Salah satunya adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari yang merupakan penulis spektakuler dalam islam, beliau paling banyak karangannya dan paling bagus karyanya. Beliau telah mewariskan karya yang jika dihitung jumlah lembarnya mendekati 350.000 lembar.

Tidak ada istilah bagi para ulama untuk menyia-nyiakan waktu mereka. Sebagaimana Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Sungguh, siang dan malam selalu bekerja untuk anda, maka hendaknya anda bekerja saat keduanya ada.”

Waktu para ulama banyak dihabiskan untuk membaca, menulis, belajar, dan beribadah kepada-Nya. Apa yang telah dilakukan para ulama jauh dari hal yang tidak penting. Bahkan mereka berusaha menghemat waktu ketika makan, minum, dan beristirahat. Semua usaha dilakukan sebagai bentuk untuk ibadah.

Syaikh Abdul Fatah, penulis buku ini menyampaikan dengan memanfaatkan waktu bukan berarti kita harus mengisi semuanya dengan aktivitas. Seluruh hidup kita harus serius dan tekun, tidak ada waktu istirahat dan bersenang-senang, juga kita harus berwajah tegang terus, tidak ada kamus tertawa dan bercanda. Namun yang diinginkan penulis adalah, hendaknya waktu-waktu luang itu tidak mengalahkan waktu untuk beraktivitas. Demikian juga, waktu luang tidak menjadi tujuan hidup, sementara waktu beraktivitas justru diabaikan dan dikesampingkan.

Buku ini highly recommended untuk pembaca yang ingin memenej waktunya lebih baik lagi, serta ingin menjauhkan diri dari aktivitas yang tidak bermanfaat.

Happy reading para readers!

#ceritabuku 

Bisa follow @baca.books di instagram juga ya ^^

Jazakumullah Khayran Katsiiran

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home