Hanya Ada di Utopia

yolanda anjani

Kemarin aku melihat berita di sebuah media terdapat negara yang masyarakatnya semua sejahtera, tidak ada kemiskinan, kebutuhan terpenuhi, pendidikan terjangkau, pengangguran berkurang, bahkan tingkat kriminalitas nyaris tidak pernah ada.

Aku bersegera menyusun semua barang-barangku untuk pergi dari negeri yang menjadi tempatku tinggal saat ini. Rasanya sudah muak sekali menetap di negeri para bedebah ini, sangat tidak layak untuk menjadi negeri menurutku. Percuma sumber daya alam dan sumber daya manusianya memadai, tapi tetap saja yang menguasai negeri tempatku tinggal ini adalah orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi. Ah, aku harus segera pindah! Secepatnya!

Aku berlari membawa barang-barangku. Aku bawa secukupnya saja. Karena disana katanya kebutuhan sandang dan pangan tidak lah semahal disini. Masih sangat terjangkau, pun tidak ada nantinya kebohongan antar pembeli dan penjual.

Sebentar lagi aku akan take off menuju negeri impianku itu. Aku ingin melihat bagaimana indahnya negeri tanpa manusia buas pemakan uang rakyat. Negeri yang tidak menindas kalangan bawah itu.

Sepanjang perjalanan diatas langit, isi pikiranku adalah bayangan-bayangan negeri tersebut. Aku pernah mendengar katanya ada negeri yang begitu indah, tapi aku tidak yakin negeri itu benar-benar ada. Aku terus menyingkirkan harapan ada negeri seperti itu dulu, karena aku kira itu hanyalah angan-angan orang terbelakang.

Namun sekarang, tiba saatnya negeri itu nyata. Beritanya sudah tersebar diseluruh belahan dunia.

Saat pesawat landing, aku menuruni anak tangga dari pesawat ini dengan tidak sabar.

“Duh!” tetesan air mengenai kepalaku.

“Ah ternyata hujan di negeri berkah,” ucapku.

Lama-kelamaan wajahku basah, hujannya semakin deras.

Byurrr,” suara air dari gayung mengenai wajah. 

"Bangun udah siang! sana bantu ibu belanja ke pasar," suara kakakku terdengar.

Aku terbangun, ternyata aku tadi singgah di negeri mimpi. Ternyata keindahan itu memang hanya ada di negeri utopia.


Tulisan hari ke-24 dengan tema 'Utopia' dari 30 Days Writing Challenge

| 04 Oktober 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home