Kemana Raja Berpihak?

 


Makin hari, makin bertambah berita diluar logika tentang peraturan yang ada di negeri Glory.

Semakin banyak peraturan yang diubah dengan sesuka sang Raja, tanpa memikirkan kondisi rakyatnya. Sistem negeri Glory juga carut marut entah sudah seperti apa, tidak jelas, tidak ada standar yang dapat diterapkan lagi dalam kehidupan.

Tiga pemuda, Fuzi, Bobi, dan Raka juga semakin muak dengan informasi yang mereka dengar dan dapatkan di berbagai media.

“Percuma bersuara, perlahan semuanya akan dibungkam,” ucap Bobi memulai pembicaraan mereka.

Kali ini mereka menikmati suasana demo mahasiswa dari dalam sebuah café dekat gedung perwakilan rakyat.

“Yang penting ada usaha, biar yang katanya wakil rakyat itu tahu keresahan rakyat sebenarnya,” balas Fuzi menambahi.

Raka meneguk kopi espresso yang ia pesan, “Hemm, nikmatnya ngopi giniya,” ucapnya.

“Paling juga yang katanya wakil rakyat itu sedang meneguk kopi hangat di ruang ber-AC kaya kamu, Ka,” ucap Fuzi ikut meneguk minumannya.

Raka tersenyum tipis, “Iya kau juga gitu fu, nikmatin kopi dari dalam ruang ber-AC,” balas Raka menimpali.

“Iya deh iya, kaya kita maksudnya,” jawab Fuzi pasrah.

Bobi mengerutkan dahinya. Tampak seperti memikirkan sesuatu dengan serius.

“Kau kenapa, Bob? Mau ikut kesana juga?” tanya Raka sambil menyenggol lengan Bobi.

Bobi mengangguk pelan, “Iya ayok lah kesana kita. Kalau kita duduk aja disini ngopi di ruangan yang nyaman. Apa bedanya kita sama para pejabat ga tahu diri itu? Setidaknya kita harus ada empati, entah kita belikan orang itu air mineral yakan,” jawab Bobi yakin.

Raka dan Fuzi saling bertatapan, mereka tidak yakin dengan apa yang dikatakan teman mereka barusan.

“Gaya mu mau ngasih air mineral! Gaji kita buat ngopi aja udah alhamdulillah ini sekarang,” ucap Raka dan kembali meminum kopi yang dia genggam.

Tiga pemuda ini sudah dapat pekerjaan. Gaji sebesar UMR, cukup untuk kebutuhan hidup mereka sekaligus mengirim uang ke orang tua mereka masing-masing di kampung. Tapi mungkin sisanya tidak cukup untuk membantu banyak orang lain, apalagi membelikan air mineral untuk para mahasiswa yang sedang demo itu.

“Bisa aja, kalian punya berapa sekarang?” ucap Bobi sambil mengeluarkan dompetnya.

“Nah, ini aku ada lima puluh ribu, kalian tambahin lah berapa kalian ada. Kita belikan aja air mineral cup yang pakai kardus itu. Nanti kita kasih ke salah satu dari mereka, biar dijalankan kardus mineralnya ke teman-teman mereka yang lain,” jelas Bobi kepada kedua temannya.

Fuzi dan Raka langsung meraih dompet mereka dari kantong, “Aku ada segini nah,” Raka menyodorkan uang merah bertuliskan seratus ribu rupiah. “Kalau aku segini, maklum lah ya jangan marah kalian,” Fuzi ikut memberikan uangnya sebesar dua puluh lima ribu rupiah.

“Gitu dong, jangan kaya Raja kalian yang ga peduli sama rakyatnya. Kita harus peduli sama wakil rakyat sesungguhnya, orang-orang yang ikut demo hari ini tuh,” balas Bobi dengan senyuman semringah.

“Semoga aja ya bermanfaat, walaupun air mineral doang,” ucap Fuzi ikut menambahi perkataan Bobi.

Setelah mereka pergi membeli beberapa kotak air mineral  cup dari kedai sekitar café itu, mereka pun membagikannya pada kumpulan mahasiswa yang sedang unjuk rasa. Para mahasiswa itu mengucapkan terima kasih kepada Fuzi, Raka, dan Bobi. Bahkan ada yang mendoakan mereka supaya lancar terus dan berkah rezekinya. Ada juga yang beberapa mahasiswa wanita yang melirik dan tersenyum ke arah mereka.

Negeri Glory saat ini berada pada masa kejayaan yang sebelah pihak. Tidak meratakan kejayaan pada semua rakyatnya. Hanya orang-orang yang berkepentingan saja yang merasakan dampak kejayaan negeri ini. Ya begitu lah keputusan Raja tidak pernah adil. Jangan kan adil pada masyarakat, pada aturan saja dia obrak-abrik.

Selesai.


| Tema Hari ke-29 dari 30 Days Writing Challenge

#30DWCJilid47

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home