Pindahnya Istana

 

yolanda anjani

“Bi, katanya Raja akan memindahkan istana loh ke wilayah lain,” tiba-tiba Raka datang dan membuka obrolan.

Bobi masih asik bermain game dengan gadgernya, “Hushh berisik pagi-pagi. Ga kau tengok aku lagi ngapai ini, hah? Ganggu aja ah!” balas Bobi acuh.

Raka menarik gadgetnya dan menatap Bobi dengan kesal, “Tahu ga kau kalau negara kita nih dah entah macam apa?” tanyanya.

Bobi mengambil gadgetnya yang dipegang oleh Raka. Dia pun merapikan posisi duduknya menghadap Raka, “Ya pasti lah aku tahu. Sampai sekarang aja aku masih pengangguran, susah kali nyari kerja. Anak-anak pejabat aja ku tengok gampang kali orang itu nerusin bapak mamaknya,” ucapnya serius.

Kondisi negeri ini memang jauh dari keadilan, mungkin juga karena keterbelakangan, dimana pemimpin negerinya ingin membuat negara ini berisikan keluarganya saja yang berperan. Hampir setiap anggota keluarga dan saudara-saudara para pemimpin disini pasti akan juga memiliki peran didalam negeri. Entah sebagai apa pun peran mereka, tapi hal ini menjadi perhatian masyarakat karena masih banyak rakyatnya yang pengangguran.

“Enak ya jadi keluarga pejabat,” sahut Fuzi menambahi.

Bobi dan Raka menoleh kedatangan Fuzi yang mendadak ini, tidak biasanya dia datang tanpa memberitahu.

“Fu, kok tumben kau tiba-tiba muncul kaya jin,” ucap Raka penasaran.

“Entah nih si Fufu, tumben,” tambah Bobi.

Fuzi membawa selembaran koran yang ditangannya, kemudian menunjukkan isi koran ke hadapan Bobi dan Raka.

“Oalah ini lah yang kami bahas dari tadi, Fu,” Bobi meraih lembaran koran tersebut, tertulis disitu, “Istana Pindah, Raja Butuh Investor untuk Pembangunan”

“Mau bangun istana aja sampai nyari investor asing, kacau kali. Ga bersyukur tuh Raja ya, dia ga lihat apa masih banyak yang terlantar. Pembangunan mulu yang dibesar-besarin,” ucap Bobi kesal.

Raka menambahi dengan semangat, “Pembangunan dan dinasti dibesar-besarin, bro!”

Fuzi menghela napas panjang, “Entahlah akan jadi apa negeri ini nanti kalau dipimpin sama orang-orang yang memiliki kepentingan gini.”

Raka, Bobi, dan Fuzi adalah anak muda yang baru saja menyelesaikan perkuliahan mereka, fresh graduate. Tapi ternyata setelah kelar dengan perkuliahan, masalah baru datang lagi. Masalah itu adalah susahnya mendapat pekerjaan. Gelar sarjana seakan tidak ada kegunaannya, apalagi ditambah kemarin trend berita mengenai kenaikan UKT kuliah. Namun mirisnya pejabat dalam bidang pendidikan di negeri ini malah mengatakan kuliah adalah pendidikan tersier.

Isu tentang pindahnya Istana ke wilayah lain sudah lama dibicarakan, hingga saatnya ditahun ini akan direalisasikan katanya. Banyak pro dan kontra yang terjadi. Pasti pihak yang pro adalah pihak elite global yang ingin menguasai negeri ini, dan tentunya pihak yang kontra datang dari masyakarat yang sadar dengan kondisi negeri sekarang ini.

Fuzi, Raka, dan Bobi pun terdiam. Terlihat pasrah saja dari wajah mereka. Seakan tidak ada harapan lagi dengan kondisi mereka saat ini.

“Ka, Bob. Kita harus berubah lah yok. Sampai kapan kita mau kaya gini terus? Jadi pengangguran abadi pula kita nanti. Dah pengangguran, jomblo pula. Ga ada nanti yang mau sama kita,” Fuzi mulai angkat bicara setelah keheningan diantara mereka.

Bobi dan Raka mengangguk. “Iya ya, kok jadi kelewar-kelewer kita. Katanya anak muda, mana jiwa muda kita pas kuliah dulu?” balas Raka mengepalkan tangan kanannya keatas.

“Dah lah biasa aja, gausah banyak kali gayamu,” ucap Bobi.

“Yang penting sekarang apa strategi kita buat berubah?” tambah Bobi lagi.

Fuzi, Raka, dan Bobi pun melanjutkan obrolan mereka. Mereka berdiskusi agar bangkit dari keterpurukan mereka. Mencoba untuk lebih bangkit lagi ditengah keadaan negeri yang entah seperti apa.

 

| Ditulis dengan tema day 27 dari 30 Day Writing Challenge

Ba'da dzuhur, 07 Oktober 2024

(Satu Tahun Genosida Palestina)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home