Hijrah
Bismillahirrahmanirrahim
Tulisan kali ini berupa sebuah kenangan dan reflesksi dari
perjalananku.
Sejak umur lima tahun, orang tua ku sudah sadar akan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anaknya. Kami semua di sekolahkan pada TK yang agamis. TK Aisyiah Bustanul Atfal, dibawah Yayasan Muhammadiyah di Kota Perdagangan, Sumatera Utara.
Kemudian saat sekolah dasar pun begitu, kami juga belajar di sebuah madrasah sore untuk menambah ilmu agama. Malam harinya kami ikut belajar ngaji di rumah tetangga yang mengajar ngaji untuk anak-anak di sekitaran lingkungan rumah.
Namun sejak SMP sampai kuliah, orang tua kami sudah membebaskan kami untuk memilih mau sekolah dimana. Aku yang mengikuti jejak abangku, memiliki pilihan yang sama, yakni sekolah umum atau pun sekolah negeri.
Menurutku, pembelajaran keagamaan di sekolah umum itu sekadar saja. Ya hanya berdasarkan kurikulum dan buku paket yang dibagikan ke murid-muridnya. Hingga pada sebuah titik aku merasa mulai jauh dari pemahaman agama sendiri. Saat itu aku sedang menginjak usia 16 tahun, tepat tahun 2016. Abangku sudah pergi merantau berkuliah di Yogyakarta. Awal keresahan ini aku rasakan karena melihat abangku yang aktif dengan dakwah, bahkan juga sering berbagi kajian-kajian dan postingan dakwah di sosial media untuk aku dengarkan.
Channel youtube Hijab Alila, kajian Ustadzah Haneen Akira, serta blog Mbak Dewi Nur Aisyah, menjadi langkah pertama sebagai bekalku meniti jalan perubahan ini, biasa kita kenal dengan sebutan 'hijrah'.
Aku pun tersadar, "Aku benar-benar tertinggal dengan agama sendiri!" pikirku
Berawal dari tahun 2016 itu, aku semakin memperbanyak langkah, semakin semangat untuk memperbaiki diri yang sebelumnya jauh sekali sebagai kategori seorang muslimah. Malu rasanya, punya agama tapi cuma jadi status aja. Gak paham untuk apa keberadaan diri ini di dunia, gak tahu apa tujuan hidup sesungguhnya.
Masa perkuliahan aku usahakan untuk menyibukkan diri bergabung pada komunitas muslim atau gerakan-gerakan dakwah dari internal mau pun eksternal kampus.
Salah satu rasa syukur hijrah ini adalah, bertemu dengan orang-orang shalih dan baik-baik. Orang-orang yang saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan mencegah pada kemungkaran. Kemudian juga senang rasanya ketika bisa bergabung dengan dakwah yuk ngaji. Alhamdulillah sekarang kurang lebih sudah 6 tahun aku bergabung sebagai murid dan pendakwah di Yuk Ngaji Medan.
Mungkin ini sekilas kisah bagaimana langkahku menelusuri perubahan diri tadi. Menjadi sebuah refleksi dan pengingat bagi diriku juga.
Terima kasih sudah membaca tulisan ini, barakallahu fiik.
#30DWCjilid47 #day26
Komentar
Posting Komentar