Fasilitas Negara untuk Kepentingan Siapa?

 

yolanda anjani

Setelah beredarnya berita kepindahan Istana Negara di negeri Glory kemarin, selang pekan berikutnya semakin bertambah banyak berita-berita yang diluar nalar masyarakat. Mungkin para rakyat negeri Glory akan semakin bertanya-tanya dengan keadaan negeri mereka saat ini, akibat perbuatan para pemimpinnya yang hanya mementingkan kepentingan mereka masing-masing.

“Anak Raja katanya naik jet pribadi cuy! Makin ngeri aja ah,” ucap Raka mulai membuka obrolan.

Fuzi dan Bobi langsung melihat gawai Raka yang berisikan berita Pangeran naik jet pribadi itu.

“Eh jangan suudzon, katanya Pangeran itu numpang kok sama temannya. Soalnya mereka searah kalau tidak salah,” tambah Fuzi setelah membaca berita dari gawai Raka.

“Lagian kok bisa-bisanya sih lagi banyak berita aneh-aneh tentang negeri ini, masih sempat-sempatnya buat berita lebih aneh lagi,” balas Bobi sambil menggelengkan kepalanya.

“Kalau tidak salah kan istrinya Pangeran lagi hamil tua, udah lah anggap wajar aja. Kasihan juga kalau harus naik transportasi umum, ada keramaian, nanti kenapa-kenapa pula lagi,” ucap Raka menimpali. Menurutnya sesuatu yang wajar untuk memprioritaskan ibu hamil.

Fuzi mengangguk setuju, “Ya juga. Apalagi anaknya pangeran pasti akan jadi penerus dinasti ini nanti,” balasnya.

“Kalian kok malah menormaslisasi ini sih! Seharusnya keluarga kerajaan pun merakyat biar jadi contoh untuk rakyatnya. Tanggungjawab jadi pemimpin itu besar loh, makanya Khalifah Umar bin Khattab bilang jadi pemimpin itu sebuah ujian dari Allah!” ucap Bobi menjelaskan kepada teman-temannya, memberikan pencerahan agar tidak menganggap hal ini biasa jika keluarga istana memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan keluarga Raja saja.

Fuzi dan Raka menunduk, mereka merenungkan perkataan Bobi. Benar juga apa yang Bobi sampaikan, menjadi bagian dari pemimpin negara bukan berarti bisa sesukanya dalam menggunakan fasilitas negara. Padahal masih banyak dipelosok dan desa sana rakyat yang membutuhkan bantuan, masih banyak anak muda yang menjadi pengangguran, pendidikan belum benar-benar merata, dan sebagainya. Namun pemimpin negeri beserta pendampingnya asik dengan dunia dan kehidupan mewah mereka. Seakan mereka adalah pemilik dunia, pemilik negeri Glory ini.

“Semoga saja ya hal kaya gini cuma ada di negeri Glory,” ungkap Raka memecahkan keheningan.

“Jadi pengen pindah negara aja ah aku kayanya. Ada negara rekomendasi kalian?” balas Fuzi tak tinggal diam.

“Kayanya negara mana pun sama aja sih kaya negeri kita ini. Yang seharusnya berubah itu orang-orang didalamnya, bukan kita yang pergi ninggalin negara ini,” jawab Bobi dengan antusias.

Fuzi memutar bola matanya, dia ingin menanyakan apa yang ada dalam isi kepalanya. “Gimana caranya biar kita punya peran dalam perubahan negeri?”  tanyanya.

“Menurutku dengan kita melek informasi, ajukan pendapat dan bersuara atas nama rakyat udah cukup,” jawab Bobi.

Raka pun menambahi, “Kalau dariku kayanya kita juga harus bergerak, gak cukup menyuarakan pendapat aja. Kita bisa ikut gerakan yang ngebuka pemikiran masyarakat atau jadi wakil rakyat untuk nyampei aspirasinya mereka. Soalnya kan wakil rakyat sekarang malah jadi wakil keluarga,” ucapnya.

“Memang butuh kesadaran sih ini, kalau kita diem-diem bae bisa makin merajalela mereka. Sekarang aja kita udah bersuara mereka masih ga peduli, apalagi kalau kita diam ya, mungkin entah udah gimana nasib kita saat ini,” balas Fuzi menimpali pendapat dari Bobi dan Raka.

Memang begitu lah keadaan dunia kita. Semua haus dengan kekuasaan. Semua ingin memiliki apa pun agar menjadi orang yang dikenal. Semua ingin menggenggam dan menaklukkan dunia agar orang-orang enggan. Apalah daya kita sebagai manusia sebenarnya, dimana kita diciptakan sebagai Khalifah di muka bumi ini untuk menjaga penciptaan-Nya, bukan merusaknya. Dimana kita diciptakan di bumi ini untuk beribadah pada-Nya, bukan malah menyaingi kekuasaan-Nya.

 
| Ditulis dengan tema hari ke-28 dari 30 Days Writing Challenge

08 Oktober 2024



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home