Writing Healing Journey: Aku Bersyukur Karena Anakku..
Tema Menulis dari Challenge Writing Healing Journey Day 4 : Aku Bersyukur Karena Anakku..
Aqsha, alhamdulillah nak kamu sudah berumur 4 bulan tepat ditanggal 17 kemarin. Tidak terasa ternyata waktu berjalan dengan sangat cepat.
Aku teringat masa-masa dimana saat mengandung, kurang lebih 40 minggu Aqsha dibawa kemana pun didalam rahimku. Saat proses melahirkannya pun penuh dengan suka duka yang menjadi kisah terhebat dalam hidup yang pernah aku alami. Pertama kali mengandung, pertama kali melahirkan, dan pertama kalinya menginjak gelar sebagai orang tua.
Banyak kekhawatiran dalam diri ini, ketakutan yang menghampiri karena merasa belum layak dan pantas menjadi seorang ibu. Perlahan, aku pun belajar serta berusaha untuk selalu berproses menjadi lebih baik setiap harinya demi kamu nak, Faezya Dhiaulhaq Al Aqsha.
Umma bersyukur sebab Allah Ta'ala masih memberikan umma waktu bisa terus belajar untuk kebaikan dalam perkembangan Aqsha.
Umma bersyukur karena ayahmu, kakek-nenekmu, keluarga, dan orang sekitar kita memberikan support yang baik kepada umma dalam berjuang menemani tumbuh kembangmu.
Umma bersyukur nak, bersyukur karena Allah telah mengaruniakan dirimu hadir ke muka bumi ini untuk menemani umma dan ayah. Yang insyaAllah akan menjadi penyejuk mata kami, menjadi investasi akhirat yang mendoakan kami, karena do'a anak yang shalih adalah salah satu amal jariyah yang pahalanya tidak terputus.
Umma bersyukur, alhamdulillah Aqsha bertumbuh dengan baik selama 4 bulan ini, biidznillah. Semoga Allah selalu melindungimu dan mengizinkan umma ayah untuk melihat tumbuh kembangmu setiap waktu, melihatmu bertumbuh hingga dewasa nanti.
Umma bersyukur, alhamdulillah Aqsha bertumbuh dengan baik selama 4 bulan ini, biidznillah. Semoga Allah selalu melindungimu dan mengizinkan umma ayah untuk melihat tumbuh kembangmu setiap waktu, melihatmu bertumbuh hingga dewasa nanti.
Mungkin diluar sana ada yang pernah menyakiti perasaan umma ketika memilih menjadi ibu rumah tangga untuk membersamaimu dan juga ayah. Namun, perkataan mereka tidak menjadikan rasa cinta dan sayang umma berkurang dengan keluarga kecil kita.
"Sayang sekali kuliah tinggi-tinggi tapi cuma di rumah aja," perkataan mereka di luar sana kurang lebih sama intinya seperti ini. Cukup menyakiti, tapi bersabar adalah kunci utama agar lebih legawa.
Saat ini yang ada didalam hatiku terucap, "InsyaAllah aku tetap bisa berkarya dari dalam rumah, tetap bisa belajar, dan menerapkan ilmu yang aku pelajari untuk anak-anakku kelak."
Ilmu kita tidak akan sia-sia walaupun memilih menjadi ibu rumah tangga. Mendidik anak bukan berarti pengetahuannya kosong, isi kepalanya nol, bukan begitu. Justru tujuan kita berpendidikan tinggi adalah untuk mengukir penerus peradaban nantinya. Menjadikan anak-anak kita sebagai penerus yang berilmu sejak dini. Dan ilmu itu berawal dari ummu madrasatul ula, yakni ibunya menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Bismillah, semoga Allah mudahkan dan Allah mampukan kita semua ya ummahat.
Allahumma aamiin..
Ditulis Ba'da Isya: Medan, 19 November 2024
Komentar
Posting Komentar