Dear, Aku yang dulu..
Bismillahirrahmanirrahim
Halo Ola. Kamu adalah seorang perempuan yang dulu sangat ambisius dengan mimpi-mimpimu. Apa pun akan kamu usahakan agar yang kamu inginkan tercapai. Saat sekolah dasar, peringkatmu selalu bagus, orang-orang sekelilingmu memuji dengan apa pun yang kamu raih. Begitu pun saat sekolah menengah pertama, hingga pada sekolah menengah atas kamu masuk ke sekolah unggulan di Kabupaten mu saat itu. Harapan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri ternama semakin besar seperti apa yang telah diraih abangmu sebelumnya. Segala upaya kamu lakukan agar bisa lulus, mengikuti bimbingan belajar offline sampai online juga. Rutin berdiskusi dengan mentor bimbel. Selalu update info kampus impian dan jurusan yang diidamkan. Bahkan mencari kenalan senior yang sudah berkuliah di kampus impianmu itu.
MasyaAllah. Perjuangannya luar biasa, usaha yang dikeluarkan juga tidak dipandang sebelah mata, benar-benar persiapan yang ciamik.
Namun, kamu lupa.
Lupa melibatkan Allah dalam segala jerih payah.
Memang ibadah wajib berjalan, diiringin ibadah sunnah juga bahkan, kemudian selalu berusaha melakukan kebaikan. Tapi niatnya semata bertujuan pada dunia, yakni lulus ke kampus impian, agar bisa bekerja di tempat yang bagus, supaya bisa membanggakan orang tua, tanpa meluruskan niat kembali menyelipkan Allah didalamnya.
Jerih payahmu tidak menghasilkan apa yang kamu impikan. Dirimu tidak lulus di kampus impian. Perlahan cemoohan orang-orang datang menerpa, "Percuma sekolah SMA nya unggulan tapi ga kuliah di kampus ternama.", "Padahal dulu ikut olimpiade, kok ga lulus kampus negeri?", dan ungkapan-ungkapan lainnya yang menusuk relung hati. Rasanya ingin sekali menjelaskan apa yang aku rasakan kepada mereka, tapi apa gunanya? Mereka tidak butuh itu. Mereka hanya ceplas ceplos saja tanpa memikirkan perasaan pendengar.
Dari perjalanan ini aku belajar banyak hal. Sesungguhnya apa pun yang kita usahakan, semuanya kembali lagi kepada rencana Allah Ta'ala.
Kita hanya bisa berencana, berusaha, berdoa, selebihnya kembali pada keputusan Allah Al Khaliq. Begitu lah makna tawakal alallah sebenarnya. Bertawakal atas apa pun ketetapan-Nya.
Dari perjalanan ini aku paham bahwa orang-orang tidak peduli dengan proses kita, tidak peduli dengan ikhtiar jatuh-bangkit kita, mereka hanya melihat hasil akhirnya. Orang-orang hanya akan melihat bagaimana episode akhir perjalanan kita.
Maka, aku bertekad dalam diri untuk fokus saja dalam perjalanan ku kedepan tanpa menoleh apa pun kata-kata mereka yang kurang baik untukku. Ada Allah. Hanya pada -Nya aku mengadu.
Wahai diriku di masa lalu, kamu hebat!
Aku kagum padamu yang bisa tetap berjuang sampai hari ini.
Bismillah, perjalanan masih sangat panjang, ciptakan kenyamanan dengan mendekatkan diri pada Sang Pemberi Perlindungan 🤍
__________________________
Menulis dengan tema, "Menulis Surat Untuk Diri Sendiri di Masa Lalu" dari Kelas Writing Healing Journey ✨
Tulisan #Day1
Ditulisa Ba'da Dzuhur, 14 November 2024
Komentar
Posting Komentar