Kunci Motor Hilang
Hari ahad lalu aku pergi menghadiri kelas intensif belajar islam dari komunitas yang aku ikuti. Dari bulan lalu udah izin ke kang suami untuk menghadiri kegiatan ini di sesi akhir. Alhamdulillah beliau izinkan dan beliau bersedia menemani anak di akhir pekan tanpa aku di rumah.
Sampai di tempat acara, tepat di parkiran motor, aku melihat kunci motor tidak ada tersangkut di tempat kunci. Kuncinya tidak ada, tapi motorku tetap menyala. Bingung, tapi aku yakin kunci motornya terjatuh saat di jalan yang ada gundukannya seperti polisi tidur.
Aku pun keluar basement mengelilingi gedung tempat acara tersebut. Namun kesalnya, dua kali satpam menegurku karena melewati jalanan satu arah di wilayah gedung tersebut. "Kakak ini mau kemana dari tadi muter-muter terus? Gak lihat disitu ada tanda dilarang masuk, itu kan satu arah jalannya!", yang satunya lagi juga sama kurang lebih ngomong gitu juga. Sedih karena kunci motor hilang, ditambah lagi rasa kesal mencuat gara-gara pak satpam yang tidak mengerti perasaanku. Ingin sekali rasanya bilang, "Pak, saya kehilangan barang! Bantu cariin dong!", tapi ya pasti percuma juga. Sepertinya mereka enggak paham dengan perasaanku saat itu.
Aku pun memilih keluar dari wilayah gedung itu dan mencari kunci motor di jalan sekitaran gedung. Namun hasilnya nihil. Aku segera menelepon suami, mengabari beliau bahwa kunci motorku hilang ntah dimana, serta meminta sarannya apakah pulang saja atau tetap mencari kunci itu dijalanan. Beliau jawab, "Lakukan yang mau ayang lakukan, sok kalau mau cari di jalanan, kalau pun mau pulang juga gpp kami menunggu umma ya di rumah," ucap suamiku di ujung telepon sana. Rasanya memang ingin istirahat aja di rumah, lelah rasanya panas-panasan di perjalanan ini, eh sampai tujuan ada ujian baru yang harus dihadapi dengan kesabaran dan ikhtiar lebih. Ya Allah, kok rasanya jadi capek sendiri hati dan jiwa ini.
Aku pun mencari kunci motor sampai setengah perjalanan keberangkatan tadi. Sisanya aku memilih ke arah jalan pulang, karena kebetulan juga jalannya satu arah jadi aku memilih arah untuk ke rumah. Sampai di rumah alhamdulillah suamiku menyambut dengan hangat sembari menggendong anak kami, "Haloo umma, alhamdulillah sampai rumah. Mau istirahat dulu?" ucapnya. Tangis ku pun langsung pecah. "Umma sedih kunci motornya jatuh, terus kesal sama bapak satpamnya disana," jawabku sambil menangis memeluk suami dan anak. Suamiku membalas pelukanku, mengusapnya, dan menenangkan emosiku saat itu. Dia mengambilkan kunci motor yang lain dan menawarkanku untuk pergi lagi ke acara tersebut. "Ini kunci motor Ayah, kalau umma mau pergi lagi pakai motor ini aja ya. Motor Umma simpan aja, matiin mesinnya,"
Mungkin karena dari sebulan lalu aku sudah izin ke suami untuk menghadiri kegiatan ini, jadi beliau paham betul bagaimana perasaanku ketika momen ini terjadi.
Alhamdulillah perasaanku pun lebih tenang setelah pulang ke rumah, aku mengangguk setuju untuk pergi lagi ke acara kajian intensif.
"Nanti kita tempah ya buat kunci baru untuk motornya Umma," ucapnya berusaha menenangkanku lagi.
Aku pun mengangguk dan izin pamit untuk kembali lagi ke lokasi kajian. Ada rasa gelisah dan sedikit kesal karena pasti akan melihat bapak satpam penjaga gedung tadi. Selama perjalanan, aku mengendarai motor dengan pelan sembari melihat jalanan, siapa tau kunci motorku masih terlihat. Namun nihil hasilnya, aku sama sekali tidak menemukannya. Jika menuruti kata hati, pasti inginnya kunci motor itu aku dapatkan segera, tapi semuanya ku serahkan kepada Allah.
Bismillah, aku sudah berusaha, berdoa, dan bersabar dengan ujian yang menimpaku saat ini. Selanjutnya aku serahkan kepada Allah bagaimana hasil akhirnya.
Dari kisah ini aku belajar lagi untuk lebih aware dengan apa pun.
| foto kegiatan hari ahad |
| Ditulis pukul 22.28 WIB setelah menidurkan Aqsha, tanggal 18 November 2024
Writing Healing Journey Day #3
Komentar
Posting Komentar