Tersadar: Fitrah Sebagai Ibu

Setelah memiliki anak, aku tersadar dengan fitrah perempuan  yang sesungguhnya, yaitu seseorang yang penyayang. Sifat penyanyang dari seorang perempuan memang sudah mengalir begitu saja ternyata tanpa direncanakan atau dipersiapkan sebelumnya.

Dulu aku pernah berpikir takut tidak bisa menyayangi anakku dengan sepenuh hati, takut masih ada rasa egois yang menguasai diri. Namun ternyata, seorang ibu akan selalu mengingat anaknya, dimana pun, dan kapan pun. Seorang ibu akan merindukan anaknya ketika sedang jauh bahkan dekat.

Kemarin, saat aku pergi untuk belajar tahsin ke salah satu yayasan, aku meninggalkan anak bersama suami di rumah. Sehabis pembelajaran selesai, yang tertuju dalam pikiranku adalah, “Gimana ya kabar anakku?”, “Apa ya yang sedang dia lakukan dengan ayahnya?”

Sekarang pun jika aku hendak membeli barang di toko online, aku jadi kepikiran juga dengan apa yang harus aku beli untuk anak. “Kayanya tisu untuk Aa sudah habis deh”, “Kayanya Aa harus beli buku bacaan baru deh” dan segala pemikiran lain yang berujung memikirkan anak.

Pernah suamiku iseng bertanya, “Kalau misalnya ada yang mau beli Aa, gimana?” tanyanya. Aku langsung segera menjawab, “Gak lah! Gak mau”

Suami bertanya lagi, “Kalau yang beli dengan harga milyaran?”

Aku tetap kekeuh jawab 'tidak mau'.

Yang terbayang dipikiranku adalah proses bagaimana aku berjuang mengandung sampai melahirkannya. Ditambah lagi aku berusaha untuk memberi ASI kepadanya secara eksklusif dan insyaAllah sampai usia 2 tahun. Semuanya seakan tidak ternilai bagiku jika harus di ganti dengan materi semata.

Rasa sayang ini juga terlihat ketika sedang lelah, capek dengan rutinitas, namun saat melihat anak tertidur pulas, atau saat dia tersenyum dan tertawa hal ini membuat perasaanku tenang dan nyaman. Rasa tenteram itu muncul ketika melihatnya juga tenang dan bahagia. MasyaAllah ya perasaan seorang ibu ini, cukup melihat anaknya happy bawaannya juga jadi happy.

Nak, umma sayang sekali dengan Aqsha. Semoga Aqsha kelak menjadi anak yang shalih ya, anak yang beriman kepada Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Aqsha bisa jadi mujahid islam ya, insyaAllah menjadi pembebas Al Aqsha yang memiliki jiwa pejuang tangguh. Semoga Aqsha menjadi anak yang pintar, hafidz qur’an InsyaAllah, dan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tua. Aamiin allahumma aamiin.

Umma dan Ayah mencintai Aqsha. Tidak terasa kamu sudah mau empat bulan dua hari lagi, nak.

 

Ditulis setelah halaqoh, 15 Desember 2024

| Writing Healing Journey day 2

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home