Menjadi Ibu dan Keresahannya
Kurang lebih sudah 4 bulan aku jalani peran sebagai seorang ibu. Sebuah peran dimana aku belum pernah sama sekali membayangkannya. Saat mengetahui kehamilan, pikiranku tertuju bagaimana merawat dan mendidik janin dalam rahimku. Terkadang terpikir juga bagaimana kelak diri ini jika sudah menjadi sosok seorang ibu, namun entahlah cukup sulit membayangkan sesuatu yang belum terjadi.
Merencanakan plan A dan B jika menjadi seorang ibu juga aku persiapkan ketika detik-detik akan berjumpa dengan si buah hati. Untuk penerapannya sendiri, ya tentu tidak seutuhnya sesuai dengan ekspektasi dan plan tersebut. Ada hal-hal yang qadarullah tidak terjalani dengan sesuai rencanaku, namun aku bersyukur dan yakin akan ada hikmah setiap dibalik yang telah Allah tetapkan.
Salah satu keputusanku untuk menempuh peran baru sebagai seorang ibu adalah, memilih untuk tidak bekerja di ranah publik atau diluar rumah. Kenapa? karena ingin menemani tumbuh kembang si kecil, ingin mengurusnya di rumah, dan selain itu ingin menjalani fitrah perempuan yang sesungguhnya dengan berada didalam rumah. Rumahku, istanaku.
Tentu dengan pilihan ini awalnya terjadi pro dan kontra pada keluarga. Mama dan Ayahku ragu dan meminta agar aku tetap bekerja. Dilain sisi, suami alhamdulillah mengizinkan pilihanku. Pun jika aku mau bekerja, beliau lebih mengizinkan pekerjaan yang work from home, yakni bekerja dari rumah saja. Salah satu alasannya juga karena suami bekerja di pemerintahan yang akan dipindahkan setiap lima tahun sekali dari badan perwakilannya. Sehingga beliau juga tidak terlalu mensupport aku untuk bekerja seperti menjadi pegawai negeri atau di badan usaha milik negara. Selain karena hal itu, tentu dilihat dari sisi keadaan, suami lebih mendukung agar aku menenami perkembang Aqsha, si buah hati kami.
Perlahan dengan meyakinkan kedua orang tua, alhamdulillah mama dan ayah ridho dengan keputusanku, selagi suamiku juga ridho.
Setelah menjadi ibu rumah tangga yang stay at home, teman-teman dan beberapa orang lainnya mulai menanyakan keadaanku. "Bagaimana perasaannya sebagai ibu?", "Bosen gak sih di rumah aja?", "Stress ga ngadepin pekerjaan rumah, ngurus suami dan anak?".
Dari semua pertanyaan-pertanyaan mereka, sejauh ini aku merasa tidak bosan. Mungkin terkadang memang ada rasa lelah, capek, tapi kalau bosan belum pernah sih alhamdulillah. Selain mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, dan membersamai suami, aku masih mengusahakan untuk me time di rumah. Sesederhana, aku tetap bisa journaling, tetap bisa menulis, belajar secara online, mendengar kajian, mengulangi ilmu-ilmu dengan mendengarkan kelas rekaman, membaca buku, dan masihh banyaakk yang bisa aku lakukan dari rumah. Biidznillah.
Aku jadi teringat perkataan suamiku, "Gapapa kamu di rumah, tapi jangan sampai jadi pemahaman dan wawasan kamu berkurang ya. Tetap belajar, insyaAllah aku fasilitasi," begitu ucapannya.
Maka kalau ditanya apakah menjadi seorang ibu rumah tangga melelahkan? jawabannya adalah, tentu saja iya.
Bukan hanya dari segi fisik, batin, dan perasaan pun juga ikut andil merasakannya. Belum lagi perkataan orang diluar sana yang tidak memikirkan perasaan orang lain.
Namun, ketika melihat senyuman anak, tawanya, melihat wajahnya yang tertidur lelap, membuat hati ini menjadi damai dan tenang. Lelah itu seakan sirna karena melihatnya.
Ketika melihat suami pulang dengan senyumannya yang bahagia, hati itu juga ikut berbunga. Padahal mungkin saja kan dibalik itu pasti ada rasa lelah sepulang kerja, lelah dengan pekerjaannya di kantor. Ditambah lagi ketika ia membawa makanan ringan untuk cemilan bersama istri di rumah. MasyaAllah.
Kemudian, yang menjadi alasan untuk kuat menjalani peran sebagai ibu ialah, janji-Nya.
Allah memberikan kedudukan mulia terhadap seorang ibu. Rasulullah bahkan mengatakan bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?' Nabi ﷺ menjawab, 'Ibumu.' Kemudian dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Nabi menjawab, 'Ibumu.' Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Nabi menjawab, 'Ibumu.' Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Nabi menjawab, 'Ayahmu."(HR. Bukhari, no. 5971; Muslim, no. 2548)
Dari hadis ini menjelaskan bagaimana besarnya peran ibu bagi anaknya.
Surah Luqman (31:14):
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu."
| Ditulis pukul 21.54 WIB
Medan, 21 November 2024
Komentar
Posting Komentar