Tentang Nala #2
"Sudahlah Ra, itu kan haknya Nala mau ngesave nomor siapa aja." bela Iza agar Rara tidak terlalu banyak bertanya lagi.
Rara masih belum puas, "Padahal kan cuma save doang. Dirimu aja pun jarang buat story, nal. Paling story jadwal kajian, nasihat harian lah. Kan bagus juga bisa dilihat sama orang lain story-mu."
Nala masih diam. Dia membuka pesan dan membalas chat dari Habib tadi.
Karena diamnya Nala, Rara menjadi mulai kesal. "Kontaknya Nala ini macam asrama putri ya kan Za?" tambah Rara lagi.
Iza langsung menutup mulut Rara dengan telapak tangannya.
"Aku rasa belum punya kepentingan sama mereka, jadi yaudah nggak aku simpan nomor mereka. Kecuali kaya nomor dosen atau nomor ketua kelas, aku simpan karena aku rasa nomor mereka itu aku butuhin." jawab Nala setelah membalas pesan dari Habib.
Rara dan Iza saling bertatapan dan mengangguk meng-iyakan alasan Nala.
"Wa'alaikumussalam, aku di kampus." isi pesan Nala untuk membalas chat Habib tadi.
"Kebetulan aku juga masih di kampus. Jika luang, aku mau membicarakan sesuatu secara langsung ke Nala. Boleh?" belum semenit, pesan Nala sudah dibalas oleh Habib lagi.
Isinya membuat Nala menghela nafas, "Mau ngapain sih ini?" batinnya.
Nala jarang sekali interaksi dengan Habib, mereka hanya sekadar teman sekelas. Bahkan tegur sapa saja pun sepertinya tidak pernah.
Tapi, saat ini dia mau membicarakan sesuatu. Apa itu?
_____________________
Bersambung...
#TautanNarablog7
#TentangNala
#Cerbung
Komentar
Posting Komentar