Tentang Nala #1



Belum lama hujan reda, Nala bergegas melangkah ke masjid kampusnya. 

"Hati-hati ya, dek." Ucap petugas perpustakaan, bang Bobby, yang terkenal ramah kepada seluruh pengunjung perpustakaan. 

"Iya bang." Jawab Nala menghargai. 

Nala si anak perpus-masjid, hampir tidak memiliki teman tongkrongan, dan sekadar berteman saat di kelas dengan teman-teman sekelasnya di kampus. 

Gelar "si anak pesantren" dijuluki oleh teman-teman sekelasnya. Padahal dia sama sekali belum pernah menjadi seorang santri. Tapi karena penjagaannya dalam pertemanan antar lawan jenis membuatnya dijuluki seperti itu. 

"Sekali-sekali makan bekalnya di kantin aja, Nal. Ga bosen makan di taman masjid terus?" Tanya Rara, si cewek tomboy di kelas. Dia asli anak pesantren sejak sekolah dasar, tapi tingkah lakunya seperti anak laki-laki. Sama sekali tidak terlihat anak santri. 

"Lebih nyaman disini, sejuk dan gak rame orang ghibah." Jawab Nala.

"Bah, jadi kau anggap kami tukang ghibah?" Balas Rara menahan tawa. 

Iza yang si penengah antara mereka berdua mencoba mencari topik lain, "Nanti kalo Nala mau makan di kantin kan pasti dia kesana, Ra! Gausah nyuruh-nyuruh orang lah. Kemauan orang gak boleh dipaksa." Ucap Iza. 

Seusai makan siang dan sholat di Masjid Al-Muttaqin, kampus. Mereka bertiga pun kembali dengan kesibukan masing-masing. Nala kembali ke perpus, Iza balik ke kos-annya yang dekat dengan kampus, dan Rara yang memilih ke kantin gabung dengan teman laki-laki di kelas untuk mabar (main bareng) game online. 

Sebelum mereka berpisah, satu pesan Whastapp masuk ke notifikasi Nala. 

"Assalamu'alaikum Nala, sekarang lagi dimana?" 

Deg

Rara duluan membaca pesan itu. 

"Eh ini kan nomor si Habib! Gila kacau ah ga di save sama si Nala! Hahaha"

Nala terdiam. Bukan karena perkataan Rara, namun karena bingung dengan isi pesan dari Habib. "Kenapa tiba-tiba nanya aku dimana ya?" Batin Nala.


____________________________

Bersambung...


#TautanNarablog7

#TentangNala

#Cerbung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home