Ziyadah Al Iman
| from pinterest |
Sore itu, seorang anak perempuan dengan gamis menjulurnya buru-buru menaiki anak tangga. "Aduh, telat nih!" ucapnya dalam hati.
Sesampainya diatas, "Loh kok kosong?" ucapnya lirih setelah membuka ruangan kecil di ujung kampus.
Hari ini, Ziyadh sedang ada jadwal untuk mengisi halaqoh dengan anak-anak mahasiswa baru. Kesal rasanya setelah buru-buru keluar kelas, menaiki anak tangga dengan nafas yang tidak beraturan, tapi berujung tujuan yang dimaksud tidak ada.
"Pekan lalu hanya satu yang hadir, pekan ini gak ada! Yaudah lah jadi males ngisi anak maba ini!" gerutunya kesal.
"Pasti mereka nongkrong doang ke kantin, atau malah main-main ke cafe. Hemm dasar anak Gen Z!" pikirannya semakin carut marut.
Ziyadh pun menuruni anak tangga dengan perasaan campur aduk, kesal, cemas, sedih, semuanya jadi satu. Kalau dia sedang di lapangan luas atau hutan belantara, mungkin dia sudah berteriak sekuat mungkin hingga memekakkan telinga orang lain.
Tiba-tiba, seorang perempuan melambaikan tangannya dari arah kejauhan, "Kak Ziyadh!" panggil perempuan tersebut.
Ziyadh menoleh, lalu memperhatikan siapa yang memanggilnya. "Seperti tidak asing," ucapnya pelan.
"Kak, ini aku Risti. Maaf ya kak, kami belum bisa hadir halaqoh. Hari ini Umminya Rara sakit kak. Kakak mau ikut menjenguk ke RS Mutiara?" tanya Risti dengan wajah penuh harap.
"Kasihan Rara kak, semingguan lebih ini dia ngurus Umminya terus sendirian," tambahnya.
Ziyadh terdiam. Dia termenung sejenak.
"Ya Allah, tadi hamba udah kesal duluan, marah-marah sendiri, sampai berpikir yang tidak-tidak. Sampai mau menyalahkan orang lain. Sampai hendak berburuk sangka. Padahal sebenernya, hamba gatau apa yang ada dibalik kejadian ini semua. Sesungguhnya hamba ini lemah ya Allah, hamba gatau apa-apa! Tapi sok tahu. Astaghfirullah," — ungkapan hati Ziyadh, ia merasa bersalah dengan apa yang sudah dia pikirkan tadi tentang anak-anak maba ini.
"Bismillah, iya ayo kita kesana," balas Ziyadh yakin.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Ziyadh merenungi bahwa mudah sekali ya membuat kualitas iman kita menurun. Sedikit kejadian yang merupakan hal kecil aja bisa membuat kita berburuk sangka kepada orang lain. Astaghfirullah.
Memang betul, sabar itu tidak lah semudah membalikkan telapak tangan ya.
"Kesabaran itu ada pada hentakan pertama (ketika pertama kali mendapat musibah)." (HR. Bukhari)
Namun seringnya kita mengatakan diri kita sabar, setelah sudah menggurutu dengan keadaan.
"Aku udah lakukan begini dan begitu! Tapi yaudah lah sabar aja kaya gini hasilnya"
Jadi, dari cerita Ziyadh diatas marilah kita Ziyadah Al Iman, yakni upgrade iman kita kembali. Luruskan niat kita hanya karena Allah pada setiap aktivitas dan langkah yang dijalani. Hadapi semuanya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bismillah, sama-sama yuk kita bisa gaes 🌤️
#Tautannarablog #day5
Komentar
Posting Komentar