39,8℃

Bismillahirrahmanirrahim

Qadarullah sejak dua hari lalu Aqsha demam dengan suhu yang cukup tinggi, 39,8 derajat celcius.

Qadarulllah wa maa sya'a fa'al, semuanya atas takdir dan kehendak-Nya.

Hari rabu pagi, alhamdulillah Aqsha masih sehat, masih sangat aktif, jalan kesana-kemari, tertawa, dan aktivitas lainnya. Memang sejak bulan Mei kemarin kami cukup sering berpergian, mulai dari Bandung, keliling Jawa Barat, sepulangnya kami pulang ke kampungku juga, Perdagangan, lalu ke Kisaran, bolak-balik menemani ibuku (nenek Aqsha) untuk rawat jalan juga ke Rumah Sakit. 

Mungkin Aqsha lelah, lelah dengan aktivitas yang belum ada jeda untuk dia benar-benar istirahat di rumah. Atau juga kalau kata orang tua dulu, "Itu tandanya mau pinter makanya sakit. Mungkin Aqsha mau pinter ngomong, mau makin lancar jalannya,"

Wallahu'alam, semoga ungkapan itu termasuk doa-doa baik untuk Aqsha, anak kami tercinta.

Sepulang dari rumah sakit, di hari Rabu, aku dan orang tua ku masih sempat main ke sebuah Mall. Disitu memang terlihat Aqsha cukup lelah. Dia tertidur pulas di gendongan ummanya.

Saat pulang ke rumah, disepanjang perjalanan, Aqsha terlihat menarik nafas dalam-dalam, beda dari biasanya. Tubuhnya juga lesu, hanya terdiam dan memelukku didalam mobil.

"Aa capek ya? Nanti sampai rumah kita tidur yaa," ucapku menenangkannya

Dan sesampai rumah tubuhnya mulai hangat, mungkin sekitar 37 derajat. Aku berusaha untuk tidak panik, aku beri ASI, kemudian dia tertidur nyenyak. 

1-2 jam berikutnya, suhu tubuhnya meningkat. Setelah ASI berulang kali, tiba-tiba dia juga muntah. Frekuensi muntahnya ada sebanyak 3 kali. Diiringi batuk juga, namun tidak terlalu sering terdengar suara batuknya. Nah tapi aku lupa untuk mengukur berapa suhunya saat itu. Hingga saat Kang Suami sudah pulang, kami coba mengukur lagi berapa suhu tubuhnya. 39,5 derajat celcius! Allahuakbar!

Aku langsung mengajak Kang Suami bersiap; membawa KIA dan berkas yang siapa tahu diperlukan, membawa tas perlengkapan Aqsha (pampers, baju, cemilan untuk jaga-jaga), lalu kami pergi ke sebuah klinik dekat rumah. Ya, aku khawatir. Demamnya sudah sangat tinggi.

Saat di klinik suhunya turun menjadi 38,6. Kata dokter, bisa jadi efek dari perubahan suhu lingkungannya saat ini. Setelah di cek oleh dokter, Aqsha diberikan obat untuk demam dan batuknya.

Rewel? Pasti.

Tidak nyaman? Iya dong.

Satu malam itu Aqsha tidak nyaman tidur, dia bolak-balik kebangun karena tubuhnya tidak nyaman. 

Apakah kami sedih? Sangat sedih. Sebagai orang tua, pasti tidak akan tega melihat anaknya sakit, kan?

Esoknya suhunya belum turun juga, masih disekitar 39 derajay celcius.

Kompres berulang, kasih obat sesuai jadwal, tummy time, cek suhu secara berkala, bahkan kami juga sudah mengikuti saran orang tua dengan memberikan Aqsha daun jarak untuk menghilangkan kembung, dilumuri kemiri pada tubuh untuk menurunkan panas. Satu lagi, kami lupa! Ya, ibuku menyarankan agar Aqsha di kompres pakai bye bye fever saja, mungkin kalau kompres pakai air hangat tidak mempan.

Biidznillah, atas izin Allah, setelah di kompres menggunakan bye bye fever itu, suhu tubuh Aqsha perlahan menuruh hingga 37,7 derajat celcius. Ini suhu biasa ketika Aqsha demam kalau setelah imunisasi. Baru kali ini Aqsha demam sampai diatas 39 derajat, Ya Allah :")


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home