Berbagi Insight

Insigt dari Podcast : https://youtu.be/Ybnia2jgGQE?si=u-L2SueI7wDqpL_o


Mindblowing podcast dari Ust. Dzikrullah, salah satu penggagas Sahabat Al-Aqsha dan juga Institute Sahabat Al-Aqsha. 

"Penjajahan akal lebih berat akibatnya daripada penjajahan fisik." Ucap beliau ketika sharing kenapa sampai saat ini negara-negara Arab diam atas apa yang terjadi di Palstn. 

Bagaimana penjajahan akal? Sesederhana kita di Indonesia, kita sebagai muslim melaksanakan ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, namun kita masih berpikir bahwa membebaskan Baitul Maqdis adalah tugas negeri-negeri Arab atau itu hanya urusan plstin dan sirewel. 

Diskusi menarik saat oihak FKAM nya nanya gini, "Kenapa Inggris, Prancis, dan Amerika itu kekeuh banget dukung Isrewel?"

Dan kalian tahu kenapa?

Karena mereka gak mau susah-susah ngadepin dan nerima isrewel. Sirewel itu emang udah dari sananya; bandel, susah dibilangin, banyak nuntut, mau berkuasa. Sama persis dengan kisah-kisah para Nabi yang kita tahu ketika menghadapi para orang yahud1. 

Jadi agar mereka ga sulit ngurusin, daripada nanti jadi rebutan wilayah, yasudahlah mereka dukung abis-abisan tuh sirewel untuk menggapai cita-cita mereka mengambil baitul maqdis. 

Tentunya ada alasan lain juga dari ini, seperti geopolitis, ekonomi, dan lainnya. 

Apalagi ini salah satu tameng bagi orang Amerika agar ada posko di antara negeri-negeri Arab. 

Dan di akhir, tentunya pasti kita sering nanya "Solusinya Apa?" 

Umar Solution dan Shalahuddin Solution

Solusi bagaimana itu?

Tegaknya kepemimpinan dan Syariat Islam didukung oleh kekuatan ummat. 

Karena solusi itu lah yang selama ini digunakan untuk membebaskan baitul maqdis. 

Sebagaimana juga perjuangan Rasulullah yang mengirimkan surat ke Kaisar Romawi saat ingin menaklukkan baitul maqdis. 


Notes :

Mau kita ikut berjuang untuk Palstn atau nggak, plstn itu pasti akan merdeka. Sekarang kembali ke kita mau ikut serta mengambil peran sebagai pemenang atau tidak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home