Sebuah Pengingat Hidup

Belum Baik, Tapi Terus Belajar Menjadi Lebih Baik

chat salah satu murid tahsin saat di Medan 

Chat salah satu teman 🥹

Belum baik, atau mungkin sesungguhnya aku masih sangat jauh dari kata “baik” itu sendiri.

Apalagi jika disebut sebagai perempuan yang menginspirasi. Rasanya, masih jauh sekali Ya Rabb.

Justru karena itu, aku sering melakukan introspeksi diri, bertanya kepada diri sendiri, lalu juga terkadang menceritakannya kepada Kang suami.

Aku memang sering mendapatkan pesan dari teman-teman yang mendukung dan menyemangati apa yang aku kerjakan. Ada pula yang memberikan pujian, baik dari teman yang sudah dekat maupun dari mereka yang bahkan tidak terlalu kukenal.

Namun, di balik pesan-pesan itu, ada perasaan lain yang muncul dalam diriku, yakni takut. Jujur, aku sering merasa khawatir dengan diriku sendiri.

Sebab aku sadar, mungkin orang lain hanya melihat apa yang tampak dari luar. Mereka melihat apa yang aku bagikan, apa yang aku kerjakan, dan kebaikan-kebaikan yang terlihat. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana kehidupanku ketika tidak ada yang melihat.

Mereka tidak tahu kekuranganku, tidak tahu kesalahanku, bahkan tidak tahu bagaimana aku masih sering jatuh dan berusaha bangkit lagi.

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepadaku, Dia masih menutup aib-aibku.

Sebab media sosial memang bisa menipu. Di sana, kita bisa menunjukkan kebahagiaan tanpa memperlihatkan kesedihan. Bisa membagikan kebaikan tanpa menunjukkan perjuangan melawan keburukan diri sendiri. Ya, kita tahu bahwa apa yang terlihat di layar, tidak pernah benar benar menggambarkan keseluruhan hidup seseorang.

“Yang, aku dapat pesan dari teman. Isinya kayak gini,” begitu biasanya aku berkata kepada suami setiap kali mendapatkan pesan dukungan atau pujian.

Suamiku selalu ikut senang mendengarnya. Katanya, aku memang pantas mendapatkan dukungan seperti itu.

Ketika aku mengatakan bahwa aku merasa belum baik dan belum pantas dipuji, ia menjawab,

“Memang manusia tidak ada yang sempurna. Tidak ada yang benar-benar baik tanpa cela. Allah yang menutup aib-aib kita. Tapi setidaknya, apa yang Umma lakukan memang pantas untuk mendapatkan pujian dan semangat dari orang lain.” Sesederhana itu jawabannya. Dan entah kenapa, selalu membuat hatiku lebih lega.

Meskipun jauh di dalam hati, kadang masih ada suara kecil yang berkata, “Aku masih belum pantas.”

Tapi mungkin memang begitulah seharusnya.

Bukan merasa sudah baik, lalu berhenti belajar. Melainkan menyadari bahwa diri ini masih banyak kurangnya, tetapi tetap mau berusaha menjadi lebih baik.

Teruntuk teman-teman yang dirahmati Allah, terima kasih sudah selalu mendukung dan menyemangatiku.

Terkadang aku merasa tidak pantas mendapatkan pujian-pujian itu. Tetapi alhamdulillah, setiap dukungan yang kalian berikan justru menjadi pengingat dan penyemangat bagiku; membuatku semakin ingin berdaya, semakin ingin memberikan kebermanfaatan yang lebih luas, semakin ingin menambah ilmu, dan juga semakin sadar bahwa aku masih harus banyak belajar.

Semoga apa yang terlihat baik dari diriku tidak membuatku merasa sudah cukup baik.

Semoga justru menjadi pengingat bahwa ada banyak hal yang masih harus diperbaiki.

Sebab pada akhirnya, aku tidak ingin sekadar terlihat baik di mata manusia. Aku ingin benar-benar menjadi lebih baik di hadapan Allah.


Palembang, 25 Agustus 2026.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home