Hai Bu, Tidak Semua Perjalanan yang Sama
Bismillahirrahmanirrahim
Setiap kisah perjalanan menjadi seorang ibu pasti berbeda-beda. Begitulah alur kehidupan setiap manusia. Kita mungkin menjalani peran yang sama, tetapi jalan yang ditempuh untuk sampai ke sana tidak pernah benar-benar sama.
Setelah menjalani peran sebagai ibu selama kurang lebih dua tahun, biidznillah proses melahirkan, menyusui, MPASI, menyapih, hingga toilet training yang aku jalani bersama anak pertama kami, Aqsha, Allah mudahkan dan lancarkan. Tentu ada sedikit drama di dalamnya. Seperti proses pembukaan yang cukup lama hingga akhirnya harus diinduksi saat persalinan, atau ASI yang tidak langsung deras di awal menyusui. Namun, alhamdulillah, Allah tetap memberikan kemudahan. Aqsha masih mendapatkan kolostrum yang cukup di masa awal menyusuinya.
Belakangan ini, aku senang sekali mendengar kabar bahagia dari teman-teman yang baru saja melahirkan dan memulai peran baru sebagai seorang ibu. Namun, dari cerita mereka, aku kembali disadarkan bahwa perjalanan setiap ibu ternyata begitu beragam.
Ada yang melahirkan melewati HPL, ada pula yang harus melahirkan dengan cara yang tidak sesuai dengan rencana awalnya. Qadarullah, yang semula berharap bisa melahirkan secara pervaginam, akhirnya harus menjalani operasi sesar.
Begitu juga dengan perjalanan menyusui. Ada yang bahkan sebelum melahirkan ASI-nya sudah keluar. Ada yang baru keluar setelah beberapa hari, bahkan seminggu. Ada pula yang akhirnya harus merelakan anaknya mendapatkan susu formula karena ASI-nya belum bisa keluar untuk memenuhi kebutuhan si kecil.
Tidak hanya tentang melahirkan dan menyusui, ternyata perjalanan menjadi ibu juga memiliki cerita lain yang tidak kalah berat. Ada ibu baru yang setelah memiliki anak ternyata belum merasa sepenuhnya dipercaya untuk menjadi orang tua. Masih ada campur tangan keluarga, perkataan orang sekitar yang menghakimi, bahkan orang tua sendiri yang terkadang belum yakin bahwa anak perempuannya mampu menjalankan peran barunya sebagai seorang ibu.
![]() |
| materi wholistic mamma 🍵 setuju ga? 🥹 |
Mendengar berbagai cerita itu membuatku tersadar bahwa menjadi ibu tidak selamanya mudah dan berjalan sesuai harapan. Ada banyak lika-liku yang mungkin tidak terlihat dari luar. Perjuangan seorang ibu bukan hanya tentang tubuh yang lelah setelah melahirkan, menyusui, mengurus anak, dan mengerjakan berbagai hal di rumah. Ada jiwa dan batin yang juga bisa ikut lelah ketika tidak merasa dipahami, didukung, atau dipercaya.
Mungkin karena itu, tidak sedikit ibu baru yang mengalami baby blues, merasa kewalahan, kesepian, atau sekadar ingin dimengerti tanpa dihakimi.
Dari cerita mereka, aku belajar untuk tidak mudah membandingkan perjalanan seorang ibu dengan ibu lainnya. Karena setiap ibu memiliki cerita, perjuangan, kemampuan, dan ujiannya masing-masing.
Teruntuk para ibu di mana pun berada, kalian tidak sendiri. Perjuangan kalian tidak pernah sia-sia. Tidak apa-apa jika perjalanan kalian berbeda dari ibu lainnya. Tidak apa-apa jika ada hal yang belum berjalan sesuai harapan.
Tetap semangat, ya, Bu. Semoga setiap lelah yang dijalani menjadi lillah, dan setiap perjuangan yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, Allah catat sebagai pahala yang tiada batasnya. ✨🤍
![]() |
| Sesi Pandu 45 bersama Ibu Septi Peni dan Pak Dodik bareng Ibu Profesional Palembang 🌿 |
Palembang, 10 Agustus 2026
— 11.11 WIB selesai ditulis setelah menemani Aqsha tidur.


Komentar
Posting Komentar