Kehamilan Pertama, bismillah

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah di tahun ini aku tengah mengandung anak pertamaku. Aku belum pernah mempublikasikan di sosial media atau memberitahu orang-orang banyak mengenai kehamilanku ini, cukup orang terdekat dan beberapa orang yang langsung bertanya kepadaku saja yang tahu. Memang aku berusaha untuk meminimalisir update di sosial media, dan mungkin juga sudah menjadi prinsipku membatasi mana yang harus di publish atau pun tidak.

Kali ini, kali pertama aku menuliskan cerita kehamilanku yang sudah berjalan trisemester II, Alhamdulillah.

Apakah aku sudah menyiapkan program hamil dari sebelumnya?

Jawabannya belum.

Bahkan aku dan suami memiliki perencanaan untuk program hamil tahun depan, setelah aku merasa lebih siap dan kuliah ekstensiku kelar. Namun, qadarullah rezeki Allah siapa sangka, Allah karuniakan insyaAllah kami seorang anak di tahun ini.

Ketika mengetahui bahwa aku hamil, aku cukup terkejut dan bingung. Speechless dengan keadaan. Yang tadinya mau ngasih tahu suami secara langsung saat di rumah, tapi ekspektasi tak sesuai dengan realitanya. Pak suami keburu tahu duluan dari dokter, gagal untuk memberikan surprise jadinya.

Mual, muntah, pusing, sempat sakit demam, flu, batuk dan lainnya. Semua ini aku rasakan saat trisemester I. Tidak selera makan juga mengakibatkan berat badanku turun sebanyak 4 kg. Melihat nasi aja aku sudah eneg rasanya, rasanya mual. Belum lagi mencium bau-bau masakan yang mengandung bawang atau masakan lainnya, rasanya langsung pusing dan mual. Indera penciuman ini semakin sensitif. Jarang ke dapur juga, sehingga suami yang mengurus beberapa hal rumah tangga.

Anehnya ke kamar mandi aja bisa mual, hingga kalau mau ke kamar mandi suamiku selalu menyiramkan wipol dulu sebelum aku masuk. Jadi seluruh ruangan itu harus wangi, bersih, dan rapi. Sebegitunya, astaga.

Pak suami yang terus berusaha mencari solusi, bingung menghadapiku yang tidak mau makan. Karena tidak bisa makan nasi, alhasil aku memakan ubi, jagung, kentang sebagai sumber karbohidrat. Tapi anehnya, aku suka makan buah-buahan. Rasanya segar dan nikmat di tenggorokan, jadi buah dan susu menjadi sumber energiku yang malas-malasan makan nasi ini. Apa mungkin karena aku juga tidak terlalu suka nasi ya? Sehingga saat hamil, aku sama sekali tidak mau makan nasi? Entahlah.

Alhamdulillah pelan-pelan nafsu makanku membaik, masuk trisemester II aku sudah mulai bisa makan nasi, ke kamar mandi tanpa harus disiram wipol dulu, sudah bisa masak lagi di dapur, tapi kendalanya sekarang adalah aku sering pegal-pegal. Kaya bawa bebah berat di punggung, tidur pun rasanya sudah kurang nyaman.

MasyaAllah ya ternyata perjuangan menjadi seorang ibu.

Kalau aku mengeluh, Alhamdulillah suami selalu support, “InsyaAllah setiap lelahnya, pegal-pegalnya, tidak nyaman tidur, mual, dan lainnya jadi pahala ya” ucapnya.

Pernah juga aku sampe mau nangis rasanya karena punggungku pegal sekali, dengan lucunya dia bilang, “Sayang, kalau perutnya bisa ditukar, ga apa-apa aku yang membawanya kalau kamu pegal. Jadi kita bisa bergantian.”

Jadi panjang ya tulisan ini, mungkin lain kali bisa lanjut part II keluhan ibu hamil satu ini.

Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari tulisan ini ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home