Bercerita
HARGAI WAKTU
"Aku kesel kali sumpah!" Ucap seseorang di hadapanku.
Jadi gini nih, beberapa pekan lalu saya mengikuti workshop dari kampus yang diadakan oleh organisasi dan ukm yang saya ikuti.
Alhamdulillah, lelah nya terbayar dengan keadaan alam yang sangat menawan.
Dilain sisi, kejanggalan terjadi ketika worshop.
"Waktu sudah abis ya." dari ujung pintu aku lihat seorang guru berbicara sambil menunjukkan jam ditangannya.
Waduh, udah abis waktu, tapi workshop belum selesai, batinku.
Kesepakatan kami, mengundurkan waktu beberapa menit lagi untuk menyelesaikan program nya.
Tak lama, seorang guru laki-laki datang.
"Dik, maaf sudah waktunya mereka pulang sekolah."
Syukurnya, program telah selesai.
Kami berniat untuk fotbar, sebagai penanda workshop selesai, dan program kami telah terjalankan.
"Brakkk! Bagus kali ya program kalian itu."
Aku takjub mendengarnya.
"Sampe-sampe kalian ambil waktu kami untuk pulang."
Deg!! Ternyata tidak seindah ekspektasi ku. Aku kira ia sedang memuji, ternyata bukan.
Maafkan kami, yang telah korupsi akan waktu.
Mencoba meminta maaf dengan merasa bersalah yang sebesar-besarnya. Apa daya, tak diterima salam dari tangan yang tersodorkan ini. Malah wajah penuh amarah dan rasa kesal yang melanda. Aku tak tau ia seorang guru, atau hanya sebagai tata usaha sekolah. Tapi sesungguhnya, tindakan beliau terlihat langsung oleh semua siswa-siswinya.
Mungkin maaf saja tidak cukup ya?
Bukannya Allah maha Pemaaf?
Bukan kah kesabaran adalah kunci dari segala masalah ?
Mungkin berat, tetapi manusia selalu saja menggunakan alibi "Sabar ada batas nya."
Bagaimana bisa sabar memiliki kebatasan?
Jika sabar ada batas, mungkin sang Rasulullah akan menyetujui tawaran malaikat Jibril ketika kaum Thaif akan di timpa dengan dua gunung.
Saling mengintrospeksi dan mengingatkan.
Saling memaafkan dan memohon ampun pada Allah.
Cerita ini hanya sebagai pelajaran, agar teman-teman tidak korupsi waktu seperti kami. Terimakasih telah menikmati hidangan tulisan tak seberapa ini, hehehe.
Komentar
Posting Komentar