Mengapa Mengajak Bayi Bicara Itu Penting?

Kemarin waktu lagi main di luar, Aqsha sempat bermain dengan seorang anak perempuan yang kelihatannya seusia dengannya. Tinggi badan mereka hampir sama, bahkan Aqsha sedikit lebih tinggi dari anak tersebut.

Lucu sekali melihat dua toddler bermain bersama. Mereka saling kejar-kejaran, tertawa, lalu main ciluk-ba seolah sudah lama berteman.

Karena waktu itu aku sedang cukup lelah, aku tidak terlalu dekat memperhatikan Aqsha bermain. Aku hanya melihat dari jauh sambil sesekali memantau, apalagi ada ayahnya juga yang ikut menjaga.

Tidak lama kemudian, orang tua anak perempuan itu menghampiriku.

“Mbak, kayaknya mereka sepantaran ya?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Iya mbak, nyambung mainnya.”

Beliau lalu bertanya lagi,
“Usianya berapo mbak?”

“1 tahun 9 bulan, bulan ini mau masuk 10 bulan,” jawabku.

Mereka langsung saling menatap cukup kaget.
“Loh? Anak kami sudah 2 tahun lebih mbak. 2 tahun 5 bulan kalau tidak salah. Pintar nian anaknya mbak, sudah bisa diajak ngobrol. Kosakatanya banyak ya. Kami kira sepantaran anak kami.”

Jujur, aku juga cukup kaget. Lebih tepatnya bingung harus menjawab apa. Aku cuma tersenyum sambil mengangguk pelan.

Tapi dalam hati, aku merasa sangat bersyukur.
Alhamdulillah ya Allah, ternyata perkembangan Aqsha sejauh ini berjalan baik.

Aku jadi teringat proses panjang yang kami lalui di rumah. Karena sebenarnya, tumbuh kembang anak itu tidak terjadi begitu saja. Semua ada prosesnya. Semua juga atas izin Allah.

Sejak Aqsha newborn, sebagian besar waktu kami habiskan berdua di rumah saat ayahnya bekerja. Meski hanya bersama bayi kecil yang bahkan belum bisa bicara apa-apa, aku tetap berusaha terus mengajaknya berinteraksi.

Aku mengobrol dengannya, menanyakan apa yang ia mau, menceritakan kegiatan sehari-hari, membacakan buku, dan menanggapi ocehannya, bahkan kadang mengajak diskusi kecil seolah ia benar-benar memahami semuanya.

Dan ternyata memang begitu.

Dalam teori perkembangan anak, bayi sebenarnya sudah mulai belajar bahasa jauh sebelum mereka bisa berbicara. Otak mereka merekam suara, intonasi, ekspresi wajah, hingga pola percakapan sejak usia sangat dini. Semakin sering anak diajak berinteraksi dua arah, semakin banyak stimulasi yang diterima untuk perkembangan bahasa dan sosialnya.

Karena itu, respon kecil seperti membalas ocehan bayi, mengajak ngobrol, atau membacakan buku ternyata punya pengaruh besar terhadap perkembangan kosakata dan kemampuan komunikasinya di masa depan.

Aku jadi ingat, dulu suamiku pernah kasihan melihatku yang semangat sekali bercerita dengan Aqsha kecil, sementara Aqsha cuma mengoceh sambil bergerak-gerak.

“Umma, Aqsha nggak dengerin umma. Kasihan umma capek cerita sendirian.”

Tapi aku tetap lanjut bercerita sambil menyaut ocehannya, seolah aku memahami semua yang ia katakan.

Sebenarnya Kang Suami juga paham, karena beliau pun ikut belajar tentang bagaimana mendidik dan menstimulasi tumbuh kembang anak. Hanya saja, menurut beliau cukup seperlunya saja. Kalau Aqsha terlihat tidak tertarik, ya tidak perlu dilanjutkan terlalu lama.

Tapi entah kenapa, aku tetap lanjut bercerita sambil menyaut ocehannya, seolah aku memahami semua yang Aqsha katakan.

Mungkin dari luar terlihat lucu, bahkan seperti ngobrol sendiri. Tapi saat itu aku hanya berpikir,  "tidak apa-apa, yang penting anakku terus mendengar bahasa, terus diajak berinteraksi, terus merasa diajak berkomunikasi."

Aku percaya, meski belum bisa bicara, seorang anak tetap sedang belajar memahami dunia.

Dan hari ini, aku melihat sendiri hasil proses itu.
Alhamdulillah, Aqsha tumbuh dengan perkembangan yang sangat baik biidznillah 🥹🌼


Ikut Talkshow Keluarga Kita bareng Ibu-Ibu Porfesional Palembang. Ketemu dengan Ibu Najeela Shihab ✨️🌼


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home