Sign to Start

Bismillahirrahmanirrahim 

Tahun ini aku belajar satu hal penting bahwa hidup tidak selalu tentang berlari cepat, namun juga tentang bertahan dengan niat yang lurus.

Menjadi ibu anak satu, dengan ritme hari yang penuh jeda dan kejutan, aku mendapati diriku sering berbicara pada langit; melalui istighfar saat lelah, dan hamdalah saat mampu. Di antara rumah yang kembali berantakan, tubuh yang diusahakan tetap sehat, mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kecil kami, hingga suara kecil yang mulai memanggil “Umma”, aku menyadari bahwa fase ini bukan lah tentang kesempurnaan.

Ini tentang hadir, berdaya, dan menerima bahwa setiap proses adalah izin Allah yang sedang bekerja.

Tujuh kalimat ini menjadi sebuah catatan kecilku di tahun ini , mengenai iman, keluarga, waktu, dan pertumbuhan yang pelan tapi nyata.

1. "Tetaplah berdaya dengan niat lillahi ta'ala"

➡️ 2025 ini fase dimana seorang ibu anak satu ini merasakan tetap produktif dari rumah dan diluar rumah dengan peran barunya, dengan ditemani anaknya yang sangat aktif, namun bismillah atas izin Allah , Allah mampukan sambil "astaghfirullah astaghfirullah" dan "alhamdulillah". Tentu semuanya dengan tujuan semoga Allah ridhai apa pun yang dilakukan.

2. "Hidup sehat itu mulai dari sendiri dan keluarga yang dicintai"

➡️ Kalau ditanya apakah aku dan suami berbeda sudut pandang tentang kesehatan? Jawabannya adalah iya, beda

Aku sejak dulu memang suka berolahraga (minimal banget jalan, gowes sepeda, workout di rumah), sedangkan suami berbeda denganku. Bahkan tentang makanan juga beda. Maka dari itu, aku mengusahakan untuk rutin menjalani pola hidup lebih baik, serta tetap mengajak suami. Meskipun tak semudah itu, tapi aku ingin dilihat konsisten olehnya, agar dia juga tertarik mengikuti pola yang sama. Dan memang beliau sering bilang, "Iya umma, terapin aja di rumah bagaimana cara pandang kesehatan yang umma pahami, nanti ayah pelan-pelan ya menyeimbangkannya" . 

3. "Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya"

Pasti kita akan merasakan akan ada yang datang, akan ada juga yang pergi. Jadi jangan pernah merasakan setiap yang kita miliki saat ini adalah seutuhnya kepunyaan kita, sebab rencana Allah tidak ada yang tahu.

4. "Umma, gausah capek-capek bersihin rumah ya. Apa adanya aja, toh nanti di berantakin aa lagi," Ucap Kang Suami kepada istrinya yang si paling bolak-balik rapiin jejak-jejak mainan anak. 

Aku adalah si paling overthinking kalau rumah sangat berantakan. Jiwa perfeksionis ini muncul ketika sesuatu tidak sesuai tempatnya. Yang ini harus kesini, itu harus kesitu. Alhamdulillah pelan-pelan atas support suami, aku mulai merelakan keadaan rumah. Yang biasanya bolak-balik beberes, sekarang beberes kalau anak sudah benar-benar selesai memainkan mainannya. Tidak harus dar der dor merapikan setiap waktu, karena hal tersebut hanya melelahkan fisik dan batin saja, bukan? 

So, lebih tenang dan memiliki kesadaran penuh, "It's okay, yang penting adalah momenmu bersama si buah hati" πŸ’

5. "Sesungguhnya tidak ada yang terlalu peduli dengan kehidupan kita, semua fokus pada hidupnya masing-masing. Maka, fokuslah dengan dirimu juga," — kalimat afirmasi untuk menenangkan diriku sendiri, mengembalikan jiwa yang merasa 'gagal' dihadapan orang lain. Meskipun mungkin ada satu-dua orang yang mengatakan hal kurang baik atau menyinggung, anggap saja bahwa dia belum memahami diriku, cara pandangnya berbeda denganku, jadi yasudahlah tidak perlu terlalu dipikirkan. 

6. "Jangan pelit untuk diri sendiri." 

Ini bukan kalimat untuk afirmasi atau bagaimana, tapi lebih ke pendapat orang sekitar kami, lebih tepatnya keluarga, tentang bagaimana kami mengelola uang. Tentang bagaimana kami budgeting setiap pengeluaran yang dibutuhkan. Pastinya akan ada kebutuhan dan keinginan belaka, kalau merasa belum sangat membutuhkan, lantas kenapa harus menyia-nyiakan uang untuk hal itu? 

Namun masih ada yang berpendapat bahwa, "Menghitung dan membatasi uang itu pelit." Aku rasa kacamata pembahasan tentang finansial juga harus dipahami oleh setiap orang. Mirisnya belajar keuangan itu tidak ada diarahkan sejak pendidikan dini. 

Kalau gen Z sekarang insyaAllah udah pada melek financial ya kan. 

7. Terakhir adalah, "Umma.. Mamam.. Buah.. Anggwur.." kalimat yang Aqsha ucapkan kepada umma nya, walau terpisah-pisah —tidak diucapkan secara langsung, tapi ada jedanya.

 Alhamdulillah diumur 16 bulan kemarin Aqsha semakin jelas mengikuti kata demi kata yang disampaikan orang sekitarnya. Biidznillah lebih dari 10 kata sudah bisa dia ikuti; seperti umma, ayah, oppung (dia sebut appu), mamam, minum (disebutnya ennum), nen, buah (disebut buwah), anggur (disebut anggwur),  aduh, wow, jatuh, iya , no-no, Aqsha, dan kata lainnya yang sudah bisa ia tiru ketika diucapkan oleh orang sekitarnya. 

Dari tujuh kalimat ini, aku belajar bahwa hidup tidak perlu selalu terlihat hebat untuk menjadi bermakna. Cukup dijalani dengan kesadaran (mindfull), kejujuran pada diri sendiri, dan niat yang terus diluruskan karena Allah ta'ala.

Aku belajar bahwa membersihkan rumah bisa kalah oleh tawa anak, bahwa sehat adalah ikhtiar yang dimulai dari diri sendiri, bahwa uang, waktu, dan manusia hanyalah titipan, dan bahwa satu kata sederhana dari anak—meski terucap pelan dan terputus-putus—bisa menjadi hadiah terbesar dalam satu tahun kehidupan. πŸŒΏπŸƒ

Luminary Islamic Montessori
Pekan terakhir Aqsha masuk pre school di luminary πŸŽ’πŸ«


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home