Merasakan Tenang
Aku pernah baca salah satu tulisannya kak @taufikaulia yang kurang lebih berisi begini, "Salah satu pendewasaan yang saya sadari setelah menikah adalah menahan diri untuk tidak bilang ‘sama, aku juga’ saat pasangan sedang mengeluh…"
Awal membaca tulisan itu aku enggak terlalu mikir kelain hal. Tapi ketika aku mulai memahami isi tulisannya, aku ngerasa bahwa, "Yap, that's true!" Aku dapat poinnya.
Kenapa begitu ?
Karena aku mengalami hal yang mungkin mirip dengan tulisan tersebut, tapi bedanya pasanganku tidak menjawab "sama aku juga", melainkan ia jawab dengan kalimat yang men-support dan menenangkan. Alhamdulillah.
Rasa khawatirku, takut, kecewa, insecure, dan hal sejenis lainnya, seketika lunak dan membuat hatiku lebih tenang dan yakin, "Allah Maha Baik." Akan ada jalannya insyaAllah dari Sang Pemilik Skenario kehidupan ini.
Begitu pun sebaliknya, jika pasangan merasakan hal yang kurang baik pada dirinya, sudah seharusnya kita memberikan support balik. Bukan membuatnya semakin galau dengan apa yang ia rasakan.
Jadi keinget dengan kisah bunda Khadijah, dimana ketika Rasulullah pulang dari Gua Hira setelah mendapatkan wahyu.
"Zammiluni, zammiluni!" Ucap Rasulullah dengan rasa takut.
Namun bunda Khadijah tidak menyinggung atau menyalahkan Rasulullah yang sudah pergi untuk uzlah ke Gua Hira, tetapi dengan ketenangan hatinya bunda Khadijah menjaga dan menenangkan Rasulullah.
Coba misalnya bunda Khadijah ngomel-ngomel atau malah kesal ke Rasulullah, ya mungkin udah beda cerita ya hehe.
Nah dari kisah ini tuh kita bisa ambil satu hikmah bahwa menikah itu membuat kita merasakan ketenangan, yakni sakinah.
Selain itu juga pentingnya komunikasi dengan apa yang kita rasakan. Bukan dengan saling tebak-menebak keadaan, menutup-nutupi keresahan atau ketakutan, dan menjadikan diri kurang ruang untuk berekspresi.
Pic : Tjong A Fie
Medan, 24 April 2024
Olaa
Komentar
Posting Komentar