Catatan Kecil


AKIDAH ATAU PERASAAN


“Ngapain sih kamu mikirin Palestina? Negara kita aja masih gini.”

“Boro-boro ngurusin Palestina. Kita aja hidup butuh donasi.”

Jangan Tanya bagaimana perasaanku saat itu.

Coba bayangkan ketika hal terpenting yang ada pada hidup kita, lalu seseorang menanyakan, “Apa sih pentingnya itu bagimu?”

Sedih? Atau ingin marah padanya?

Ini bukan hanya bicara tentang kemanusiaan !

Tapi, bagaimana kita memprioritaskan akidah dibanding perasaan.

Perjuangan pertumpahan darah di Palestina


Jadi, pengen melanjutkan cerita mengenai akidah dan perasaan. Aku pernah terperangkap di suatu keadaan yang benar-benar membingungkan, antara akidah dan perasaan. Kala itu, aku melihat teman dekatku berdua dengan seorang pria, yang dia katakan itu adalah temannya. Awalnya aku memantau jarak kejauhan, tiba saat yang tak kusangka. Mereka berdua pergi bersama.

Setelah itu, kedua pilihan ini membingungkan. Akidah, bahwa perempuan dan laki-laki tidak boleh pergi berduaan karena takut ada yang ketiga, wih seremm. Kemudian, si perasaan menggoyahkan akidahku. Sang hati berargumen, ia teman ku mungkin mereka hanya keluar dan tidak melakukan yang aneh-aneh. Tetapi kembali lagi pada konteks pada agama, bahwa agama bukan dengan perasaan. Tetapi harus ditekankan menurut Al-Qur’an dan As-sunnah. DEG!

Dakwah adalah cinta, kalimat ini semakin membuat semangatku membara untuk memberitahu temanku tadi. Alhasil, dia sepakat dan meminta maaf. Di sesi ini terdapat suatu hal yang sama dengan aku rasakan sebelumnya. Apa itu? Haha, temanku juga memiliki perasaan tidak enak menolak ajakan teman laki-laki masa SMA nya itu. Si lelaki meminta ditemani untuk diantar kerumah temannya temanku ini. Dengan alibi si lelaki ini tidak tau alamat temannya teman ku ini, eh ribet gak bacanya?
Begitulah perasaan. Mudah tergoyah dan terkadang tidak sejalan dengan logika, apalagi sesuai dengan akidah.

Aku sering ditegur dan mendengar tausyiah dari salah satu guru mulia, beliau selalu mengingatkan bahwa akidah tidak akan bersatu dengan perasaan. Jangan pernah bawa-bawa agama dengan perasaan, karena agama telah ditetapkan sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tidak bisa diganggu gugat lagi !

Jadi, semangat membenah diri melawan perasaan demi akidah,  teman :) 


yolandamrp [22/02/2020]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sudahkah Sahur Kita Memberi Makan Jiwa?

Kesabarannya Begitu Luas

Tahaadu Tahaabbu

Home Sweet Home